Sabtu, 17 Maret 2012

Dasar 'Padang' :p

Lagi misuh-misuh gak jelas nih, sampai detik ini gw masih gak abis pikir kenapa ada manusia seperti perempewi itu yang luar biasa pelitnya. Aduh, capek gak sih berhubungan dengan orang yang hitung-hitungannya ampun-ampunan banget kaya dia?

Kalo orang bilang, Padang banget lu. Kalau merantau ke daerah lain orang umumnya menyimpulkan kalau seseorang pelit pasti orang Padang, padahal gak juga kok. Klo pelit ya pelit aja gak mesti karena dia berasal dari daerah tertentu. Cuma kebetulan perempewi ini memang orang padang juga ahhahaha :D

Hidup memang perlu banget hitung-hitungan. Cuma ya jangan sekejam itu juga lho hitungannya, apalagi soal bisnis. Dalam bisnis memang menganut prinsip modal kecil untung besar, tapi gw belum pernah nemu bisnis yang gak bermodal sama sekali. Bisnis apaan tuh? Masak ga mau keluar modal? bisnis apa bu? bisnis kentut? :p

Apalagi dia udah surplus berkali-kali, dan untuk mengeluarkan dana sekecil itu aja ogah? Bahkan mungkin harga makan siangnya aja lebih mahal dari modal yang harus dikeluarkan itu.

Pada awalnya gw senang melihat ambisi dan semangatnya, orangnya lihai juga dan cocok lah untuk bisnis ini. Tapi setelah kejadian kemaren gw tercengang, ternyata bukan orang seperti itu yang gw cari sebagai 'core team'. So bye bye ajalah :)

Kamis, 08 Maret 2012

In Memoriam 'Dek Faiz'

Segalanya milik Allah dan hanya kepadaNya semua kembali.
Ketika menulis ini airmata gw gak berhenti mengalir. Sekitar pukul 10 pagi tadi gw mendengar kabar kalo dek Faiz meninggal dunia. Dek faiz belum genap berusia 2,5 bulan. Gw belum pernah ketemu, cuma selembar foto yang dikirim melalui MMS dari sepupu yang menjadi kenangan bahwa ponakan terkecil udah lahir kedunia.

Gak jelas dek Faiz ini sakit apa tapi dari informasi yang gw dapet bahwa dek faiz sudah kuning sejak berumur 3 minggu, cuma ibunya gak menyadari kuningnya itu kenapa. Di pikir itu cuma kuning karena kurang cairan dan kurang kena sinar matahari. Cuma setelah usia 2 bulan kuningnya ga kunjung hilang dan ditambah lagi dengan tanda-tanda ganjil dari Dek Faiz spt tinja berwarna pucat seperti dempul cat, kulit kering dan gatal-gatal serta kuningnya makin jelas terlihat di telapak tangan, kaki dan dada ibunya segera memeriksakan ke dokter.

Dokter pun terkejut dan sempat 'memarahi' si ibu kenapa baru dibawa sekarang. Kata dokter kondisi dek Faiz udah parah. Ibu yang gak menyangka sperti itu langsung panik. Katanya dek Faiz menderita kelainan hati dan dikasih semacam obat2an. Ketika itulah si ibu menelpon gw dan menyatakan kegundahan hatinya. Gw juga pernah medengar kasus seperti ini, dan ada juga anak dua orang teman gw mngalami seperti ini, cuma kuningnya disadari ketika baru lahir dan itu diseabkan karena kadar bilirubinnya tinggi (gak tau juga istilahnya benar apa gak) namun karena langsung ketauan dan mendapat penanganan khusus, si bayi udah sehat dan gak kenapa-napa. Beda kasus barangkali dengan dek faiz ini.

Waktu itu gw kepikiran banget ama dek Faiz, sampai2 gw suruh untuk segera rujuk aja ke rumah sakit yang lebih canggih dari kota tempat dia bermukim sekarang, cuma barangkali masih ragu si ibu dan ayah dek Faiz masih menunggu sampai obat dari dokter habis dulu dan melihat tanda-tanda kalau saja dek Faiz bisa sembuh.

Beberapa hari sejak mendengar kabar dek Faiz sakit gw gak dengar kabar lagi, gw berharap dia berangsur membaik, sampai akhirnya magrib kemaren sepupu gw sms dan bilang kondisi dek faiz memburuk, gak bersuara sama sekali, kejang-kejang dan telapak tangan, kuku serta telapak kakinya putih/pucat banget. Gak mau menyusu dan minum apapun, dan air liurnya menetes terus. Ya Allah asli gw terenyuh dan takut banget dengernya. Menurutnya dek faiz segera dilarikan ke UGD dan dirujuk ke RS kekota lain yang lebih canggih dan menempuh perjalanan sekitar hampir 6 jam dengan ambulan.

Semalaman tidur gw gelisah, terbayanag dek Faiz terus, terbayang betapa gelisah dan risaunya ibu dan ayahnya. Gw gak sanggup membayangkan kalau kejadian itu menimpa gw. Sampai akhirnya subuh gw dapat kabar dari kakak gw yang baru saja menelpon ayah dek Faiz, katanya dek Faiz dirawat intensif, semua badannya dipakai slang macam-macam. Gak tega bayi 2 bulan itu harus menghadapi penyakit parah seperti itu.

Dan jam sepuluh tadi akhirnya gw mendengar kabar duka itu, dek faiz gak tertolong, kita semua sayang dengan dek faiz dan ternayata Allah lebih sayang sama dia. Penderitaannya berakhir sudah, namun menyisakan kepedihan di hati kita. Gw gak sanggup menelpon ibu dan ayah dek Faiz. Gak sanggup harus berkata apa. Kerongkongan gw sakit. Pahit.

Gw jadi ingat, sejak awal kehadiran dek Faiz. Sebenarnya ibunya gak ingin hamil lagi setelah sebelumnya punya tiga orang anak, Dek Faiz mungkin semcama 'anak tak diinginkan' dan ibunya sempat meolak kehadirannya, sempat hampir menggugurkannya. Naudzubillah! dan alasannya karena mengingat tiga anak sebelumnya penyakitan dan dia gak mau lagi kalo seandainya anak keempat ini lahir (dek Faiz) juga penyakitan. Mungkin itu cuma emosi sesaat, toh akhirnya setelah dek Faiz lahir dia tetap sayang kok, cuma ternyata ucapan seorang ibu benar2 seperti doa yaa..

Mudah-mudahan ini menjadi hikmah, kalau kita ga boleh ngomong asal-asalan, Karena kata-kata adalah doa, terlebih ucapan seorang ibu kepada anaknya.

Selamat jalan dek faiz. Walaupun kita belum ketemu, walaupun tante belum sempat menggendongmu tapi tante sayang padamu. Semoga ibu dan ayah dek Faiz juga tabah dan kuat menghadapi semua ini dan tidak terus menyesali diri. Tuhan Maha sempurna dengan semua rencana-Nya.

Kamis, 09 Februari 2012

tentang mimpi dan ujian matematika

Kira-kira dua tahuan ini gw sering banget ngalamin mimpi yang sama. Gak persis sama sih, karena setting cerita dan orang-orang yang ada di mimpi tersebut berbeda namun inti mimpi itu sama yaitu gw berada pada situasi mengahdapi ujian matematika dan gw gagal atau tidak lulus. Ketika dalam mimpi itu gw bersedih karena gak lulus ujian tersebut, gw langsung terbangun. Mimpi semacam itu udah gw alami lebih dari sepuluh kali. Apakah ada maksud dibalik mimpi itu?

Awalnya gw gak terlalu memikirkan, cuma karena berulang-ulang walaupun tidak berturut turut, bisa dalam rentang dua bulan atau tiga bulan sekali, tapi kalo gak salah sih dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini, dan gw mengalaminya lebih dari sepuluh kali. Bukankah itu agak aneh?

Gw mulai sibuk menganalisa mimpi tersebut, UJIAN MATEMATIKA. Well, dari sejak jaman esde gw memang tidak pernah menyukai pelajaran ini. Waktu esde nilai gw standar aja, dapat 7 atau 8, ketika esempe kisaran 6 dan 7 malah pernah sekali dapat nilai 5, ketika esem-a juga berkisar 6, 7, dan klo ga salah cuma 2 kali dapat 8. gw memang agak lemah dan benar-benar tidak menyukai pelajaran matematika dan ilmu2 eksakta pada umumnya. Namun lucunya gw masuk kelas unggulan ketika esem-a. Dimana anak2 unggulan ini di rancang untuk masuk program IPA pas kelas 3-nya. Dan begitulah..gw masuk IPA dan juga dapat undangan kuliah di Perguruan tinggi negeri tanpa tes di jurusan teknik Elektro yang udah nyata-nyata berisi ilmu eksakta dan matematika.

Waktu kuliah juga biasa aja, gw pernah dapet nilai E untuk matematika dasar dan waktu itu memang dosennya ngasih nilai E sekelas, ketika ngulang lagi gw malah dapat A yang gw ga tau kenapa bisa dapat A hehehe, untuk matematika terapan/lanjutan gw dapat B. Lumayan walaupun untuk Fisika 1 dan Fisika 2 gw dapat C dan D. Lagi-lagi beruntungnya gw termasuk mhasiswa yang duluan wisuda dengan IPK yang juga lumayan untuk ukuran anak teknik di jaman-jaman gw waktu itu 3,09.

Bertahun-tahun sudah gw terbebas dari matematika kenapa malah baru sekarang-sekarang ini dia menghantui gw? Di dalam mimpi itu, gw seolah masih bisa merasakan betapa kecewa dan sedihnya gw gak lulus. Betapa matematika itu begitu menakutkan bagi gw.. dan tiap kali gw terbangun gw sangat bahagia karena semua itu hanyalah mimpi.

Atau jangan-jangan ini sebenarnya gak ada hubungan dengan matematika? Mungkin alam bawah sadar gw secara tidak langsung mengekspresikan ketakutan2 gw soal hal yang lain yang gak ada hubungannya sama sekali dengan matematika? tapi apa itu? Gw mencoba berpikir jernih, apakah yang paling gw takutin dalam hidup gw?

Banyak hal, gw takut ada penyakit berbahaya di tubuh gw, gw takut jatuh miskin dan hidup melarat, gw takut orang-orang yang gw sayangi sakit dan kena musibah atau meninggalkan gw, gw takut tua dan menjadi jelek. Ketakutan yang 'cengeng' ya? Tapi kalo dipikir-pikir takutnya gw soal hal tersebut gak membabi buta kok, sekedarnya saja.. takut yang menurut gw gak sampai membuat gw stress dan harus terbawa mimpi.. Jadi bangkali bukan hal itu juga yang mebuat gw mimpi gagal ujian matematika :D

Ya sudahlah..kalaupun memang hal tsb yang membuat gw mimpi semacam itu, gw harus sering-sering istigfar deh, dan mulai belajar lebih keras lagi soal ilmu ikhlas dan tawakal.

Apa sih yang harus gw takutin? toh semuanya sudah diatur dengan maha sempurna oleh Allah. Yang penting gw harus memperbaiki hubungan gw agar lebih baik lagi dengan-Nya dan sesama. Setelah itu, biarkan berjalan sebagaimana mestinya.

Rabu, 08 Februari 2012

antara gw, merry riana dan resolusi 2012

Kemaren abis donlot buku merry ryana yang berjudul dare To Dream Big. Siapa sih yang ga kenal cewek tajir ini? Yang lagi booming2nya di media sosial. Cewek yang udah jadi milyuner di usia 26 tahun.

Yah, berhubung ada sesuatu yang gw ga tau apa di jaringan internet, buku tersebut ga berhasil di donlot sodara sodara! Tapi gw masih sempat baca sekilas isi buku tersebut yang sayangnya berbahasa Inggris. Dan dengan kemampuan Bahasa Inggris gw yang minim, gw berhasil mendapatkan beberapa poin penting dari buku tsb. Ini dia:

Yang paling penting dalam bisnis adalah : 3C, Capital, Contacts dan Capabilities

Kalimat yang juga paling ngena di gw adalah:
"Hard work always pays off, it's juat a matter of time". If you want to be successful, you need to be prepared not only to work hard, but to work REALLY HARD. There's no elevator to success. You have to take the stairs.

Udah itu aja yang sempat gw catet, sebelum semuanya ilang hehehe.

Hasrat gw untuk kembali menekuni bisnis online gw otomatis menyala lagi setelah membaca bukunya yang walau sekilas itu. Gila bisnis online yang gw jalanin itu gak main-main ternyata, tapi level dunia. Ngeces abis liat pencapaian-pencapain yang sudah di dapat oleh leader ataupun temen2 yang sama-sama merintis ama gw dulu. Mereka udah kemana-mana gw masih disini sini aja.

Ok, cukup sudah menyesali diri dan 'iri'dengan pencapaian orang lain, saatnya sekarang gw membenahi niat, cara kerja dan mind set gw soal kesuksesan itu sendiri. Insyaallah tahun 2012 ini tahun kebangkitan gw untuk mencapai tujuan utama gw yaitu 'kebebasan waktu dan finansial'

Aamiin.

NB ; Akhirnya gw punya resolusi juga untuk tahun ini :p

Sabtu, 21 Januari 2012

pengakuan

Kenapa Tuhan menciptakan kehidupan manusia tidak ada yang sempurna? Barangkali agar manusia tidak sombong dan senantiasa bersyukur atas hal yang diberikan padanya yang justru tidak diberikan kepada orang lain.

Gw hanya ingat gurauan seorang teman beberapa waktu lalu, " Gw iri sama lu, punya keluarga kecil bahagia". Mungkin konsep 'iri' dia adalah karena dia tidak (belum) berada pada tahap seperti yang gw jalani sekarang, menikah dan punya anak, sedangkan dia sangat ingin. Dia adalah lajang yang sukses di pekerjaan dan pendidikan. Well, jujur di lain waktu justru gw yang kadang 'iri' pada dia. Pekerjaan menyenangkan dan bergaji besar, sudah lulus S2 pula dimana didapat dari beasiswa, trus puas jalan2 kemana kemana tanpa harus mikirin biaya ataupun keluarga. See? Kadang 'iri' muncul ketika kita menginginkan kehdupan orang lain yang terlihat sempurna di mata kita.

Di lain waktu seorang teman lain, juga berurai airmata menceritakan kisah cintanya yang selalu kandas padahal dia sangat ingin menikah. Dia juga wanita karir yang sukses, supel, dan cantik. Rasa-rasanya hanya lelaki bodoh yang mau mencampakkan dia. Tapi apa daya itulah yang terjadi.

Ada lagi teman gw yang juga sudah mapan dalam pekerjaan dan usia yang juga udah matang untuk berumah tangga juga mengeluhkan tentang jauhnya jodoh.

Kalau dipikir-pikir gw punya belasan teman teman wanita lajang yang sukses dalam karir. Mereka adalah perempuan baik-baik, terpelajar, berusia mendekati kepala tiga, bahkan ada yang sudah lebih dari kepala tiga dan sedang galau menanti datangnya jodoh.

Kadang tiap kali bertukar kabar, gw gak mau menyinggung-nyinggung soal 'kapan menikah?' pada mereka. Hal-hal semacam itu bisa sangat sensitif bukan?, sama halnya ketika kita sudah menikah lebih dari setahun dan belum punya anak ditanya 'kapan punya anak?'. Dan gw pernah berada pada kondisi seperti itu, sehingga paling nggak gw mengerti bagaimana rasanya ditanya hal yang kita gak mampu menjawabnya :)

Tidak hanya teman-teman wanita, teman-teman pria pun juga banyak yang sangat matang dan belum menikah, bahkan ada yang mendekati kepala empat. Entah mereka begitu rapi menyimpan kegundahan tentang jodoh yang belum datang atau memang mereka tidak terlalu memusingkannya, tapi gw melihat mereka menikmati saja kesendirian mereka. Lagian tidak semua manusia juga barangkali yang menjadikan menikah, punya anak dan hidup mapan sebagai tujuan hidup.

Mungkin tidak perlu harus membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Kita yang tau persis apa yang terbaik untuk kita, apa tujuan hidup kita, apa pencapaian yang kita inginkan, apa hal-hal yang membuat kita bahagia.

Seperti kata seorang teman di status FB-nya 'tidak perlu berkecil hati dengan perbedaan takdir yang diberikan Tuhan, pasti ada hikmah dibalik semua itu'

Ada yang dianugerahi anak namun kesulitan secara finasial, dan ada yang tidak dianugerahi anak namun kaya raya. Ada yang punya suami/pasangan namun sering disakiti, dan ada yang malah jangankan untuk punya suami, lawan jenis saja begitu sulit untuk mendekat. Bahkan seorang yang terlihat memiliki kehidupan yang nyaris sempurna pun pasti punya masalah tersendiri.

Diperlukan kekuatan dalam diri kita untuk ikhlas menerima apa adanya diri kita sambil terus berupaya memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Pengakuan : Gw perempuan berusia hampir 29 tahun, ibu seorang batita, mantan wanita karir (yang tidak terlalu sukses), lulusan D3 yang tidak terlalu pintar, mantan penyiar radio yang tidak terlalu hebat. Seorang ibu rumah tangga yang tidak terlalu cekatan mengurus rumah tangga, tidak (belum) bisa kreatif berbisnis dan belum meraih pencapaian apapun. :D

Yah apapun adanya diri gw dengan segala kekurangan dan ketidak istimewaan diri gw, setidaknya gw adalah orang yang paling dibutuhkan oleh anak gw :D dan orang yang dicintai suami gw, orang yang selalu didoakan oleh orang tua gw dan di sayangi oleh saudara-saudara gw. Mungkin itu lebih dari cukup.

Menerima apa adanya diri kita mudah-mudahan bisa membuat kita gak lagi harus iri dengan orang lain.

*ini sebenarnya postingan tentang apa sih?* :p

Jumat, 20 Januari 2012

untitled

Baiklah, gw mau rutin ngeblog lagi *emang siapa yang mau baca?* hehehe. Pokoknya mau ngeblog lagi. Titik! Walau mungkin kebanyankan berisi curcol khas emak-emak beranak satu, yang 'hanya' ngurusin rumah tangga saja. Kedengarannya membosankan sekali ya? Hahhaha gapapa lah :D

Sebagai perempuan yang dulunya pernah bekerja a.k.a wanita karir dan juga punya segudang kesibukan lainnya, sempat bergaul dengan orang-orang 'hebat kreatif dan luar biasa', ide untuk menjadi ibu rumah tangga terdengar sedikit mengerikan. Awal-awal nya sih iya, gw tertekan merasa gak berarti dan segudang emosi negatif lainnya, tapi seiring berjalannya waktu semua perasaan itu hilang begitu saja.

Realistis aja deh kalo gw tetap bertahan kerja berarti gw bakal jalanin pernikahan jarak jauh ama suami dan jujur gw gak sanggup, trus mencari kerja disini setelah menikah juga susahnya minta ampun, dimana-mana umumnya kan perusahaan mencari yang masih singel, alhasil yah jadi ibu rumah tangga aja sambil waktu itu konsentrasi untuk punya anak *sebelumnya sempat di kuret* See? awal-awal pernikahan emang gak memungkinkan bagi gw untuk kembali berkarir di kantor.

Setelah punya anak juga sami mawon, malah tambah repot. Ninggalin anak sama pengasuh dan bekerja? Di kota antah berantah ini yang gw gak kenal siapapun selain suami gw, rasanya gw ga bisa mempercayai siapapun untuk mengurus bayi. Oke mungkin untuk saat ini gw emang jadi ibu rumah tangga aja, walaupun gw masih terus membangun mimpi2 dan rencana untuk tetap bisa bekerja. :)

Nah, dimulai lah pengalaman2 seru gw sebagai emak-emak muda beranak satu dan tidak bekerja. Bergaul dengan tetangga yang juga 'bernasib' sama, ibu rumah tangga. Yah, apalagi yang diobrolin selain kebiasaan anak, gimana makannya, gimana perkembangannya, kebiasaan suami bla bla bla, walaupun gw lebih sering sebagai pendengar daripada pihak yang bercerita.

Di tempat lama, gw ga begitu suka bergaul dengan mereka, bukannya apa-apa tapi gak ada positifnya. Tetangga gw sukanya ngerumpi gak jelas, gosipin si anu, buka aib si A, malah juga ceritain keburukan suami. Maka jadilah gw dianggap 'sombong' oleh mereka karena gak pernah ngumpul, keluar rumah juga kalau ada keperluan saja. Disana juga para tetangga tipikal senenag liat orang susah, susah liat orang senang. Kita beli ini, itu kadang di iriin. Atau kadang baik baik in kita dan ujung-ujungnya minjam duit, bukannya kita pelit tapi siapa yang mau minjamin duit dan duitnya gak dibayar dan pura-pura lupa? Asem dah, kita kan bukan pohon duit? Jadi begitulah, karena udah ga tahan lagi tinggal disana jadilah kami pindah. Dan ditambah lagi tetangga pas di depan rumah hobi banget berantem suami istri, trus anak dan ibu, menantu dan ipar. Ribet ya? Ya iyalah mereka tinggal beranak pinak disana, rame banget.

Awal Desember akhirnya kami resmi pindah dengan harapan disini jauh lebih baik daraipada disana. Gw bisa bertetangga, Dafi bisa ada temennya dan yang paling penting lingkungan juga kondusif. Alhamdulillah sejauh ini semua berjalan lancar dan sesuai harapan.

Mungkin negatifnya adalah, anak-anak disini (maaf) gak diurus dengan begitu telaten dan baik sama ibu mereka. Makan sembarangan, jajan ini itu, sampai-sampai gw ga habis pikir kok tega banget sih ngasih anak batita makanan instan? Mudah2an anak gw gak ikut2an suka jajan kaya teman2nnya disini. Amien.

Minggu, 01 Januari 2012

Bukan Resolusi loh yaa :p

Biasanya orang-orang sibuk bikin resolusi di tahun baru, tapi gw udah lama gak melakukannya. Dulu pernah sih, menulis dengan indah resolusi-resolusi yang pengen gw capai di tahun depan, cuma itu gak cukup berhasil sehingga gw gak lagi menjadikan pergantian tahun sebagai ajang untuk bikin resolusi-resolusian.

Beberapa tahun terakhir, tahun baru hanya bermakna : nonton semalaman sambil makan cemilan, karena biasanya tahun baru banyak acara2, atau film-film bagus tayang di tv , keluar rumah menyaksikan kembang api yang berpijar di langit ketika jam 12 teng dan kemudian beranjak tidur. Gak ada yang istimewa. Dan sebelas dua belas dengan suami, dia juga gak menganggap pergantian tahun itu hal yang istimewa, ditambah lagi dia gak biasa dan emang gak bisa begadang. Jam 9 aja kadang udah tidur pulas hehehe :D

Cuma memang ada beberapa rencana yang ingin gw lakuin di tahun ini, tapi tetap gak mau menamakan ini sebagai resolusi :p. Yang pertama segera mencari agen asuransi terbaik, dan gak mau menunda-nunda lagi. Bagaimanapun asuransi itu penting. Dan yang kedua segera mulai merenovasi rumah pertama kami. Mudah-mudahan tahun ini juga sudah bisa ditempati dan gak jadi 'kontraktor' lagi alias ngontrak rumah orang lagi :)

Rencana berikutnya adalah, gw harus bisa bikin pempek dengan baik dan benar. Well, gw udah pernah mencoba bikin pempek sekali dulu ketika masih hamil Dafi, cuma hasilnya tidak begitu memuaskan. Rasanya kurang afdhol aja, walopun gw dan suami sama-sama orang Padang, tapi kita tinggal dan menjadi bagian orang Palembang kok ya, gak bisa bikin pempek? hehehe :D

Namun, yang lebih penting adalah soal ibadah gw, jujur entah kenapa makin kesini ibadah gw makin 'alakadarnya' aja. Dibandingkan ketika masih gadis, gw rasa ibadah gw lebih lumayan dibanding udah jadi emak-emak gini. Dulu walopun gak rutin, gw selalu mengusahakan bisa sholat tahajud, sekarang gak pernah sama sekali, dulu dalam sebulan gw beberapa hari puasa sunat, sekarang hutang puasa bulan Ramadhan aja belum lunas samasekali, dulu juga hampir dibilang gak pernah tinggal sholat dhuha di kantor, sekarang jaraaaanngg banget. Dulu selalu mengaji abis sholat magrib dan subuh, sekarang juga jaraaaanng banget. Menyedihkan yaa :'(

Berbanding terbalik dengan suami, dulu ketika masih bujangan katanya ibadah juga alakadarnya aja, hanya menunaikan sholat2 wajib, trus puasa bulan ramadahan. Itu aja. Namun sejak menikah, gw liat dia makin berubah, setiap selesai sholat magrib selalu mengaji dan dalam setahun bisa khatam 2 kali. Sholat dhuha juga gak pernah absen, sebelum berangkat kerja, dia pasti sholat dhuha dulu. Gw sering diingetin untuk ngaji lagi bareng-bareng cuma dasarnya gw bandel entah kenapa enggan banget baca Al-Qur'an lagi. Help me God!

Gw selalu mudah menyalahkan kondisi untuk kelalaian gw, repot dan capek ngurus anak dan rumah sehingga gak sempat lagi untuk ngaji, atau bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Padahal kan, emang dasarnya gw yang gak pinter manajemen waktu.

Sebenarnya sih emang ya, jadi ibu rumah tangga itu capeknya minta ampun. Beda aja dibandingkan ibu bekerja. Karena 24 jam waktu kita tercurah untuk anak dan rumah. Mungkin kelihatan sepele, tapi coba dirasaian sendiri kalo gak percaya. Kasarnya sih capek lahir batin hahaha. Cuma kan, kalo dipikir-pikir gw harusnya bersyukur, suami gw mau turun tangan membantu gw. Berhubung bukan orang kantoran yang harus masuk kerja pagi jam 8 tapi suka-sukanya dia, gw lumayan tertolong, dia bisa bantuin jaga anak dan beberes rumah ketika misalnya gw pagi-pagi belanja kepasar dan kemudian masak. Atau bantuin nyuci pakaian, walo pake mesin cuci sih tetep aja kadang repot. Trus malamnya ketika Dafi rewel dan gw udah sangat capek, dia mau jagain dan nemenin sedangkan gw tidur cantik. Trus soal semua kebutuhan, Alhamdulillah tercukupi. Pengen sesuatu tinggal tunjuk *tapi gak semua hal juga sih, buktinya pas gw nunjuk minta dibeliin All New CRV gak dikasih tuh! Ok, gw nunjuknya berlebihan banget sih, Etapi pas nunjuk bathtub, shower dan peralatan kamar mandi lux lainnya, pas kita lagi liat-liat di ACE Hardware juga gak dikasih (emang mau ditaruh dimana bego, rumah kalian aja masih belum diapa-apain) :p*. Oke kembali ke topik, kalo gw lagi males masak, ya dia ngerti juga, trus kita makan diluar. Yah gak neko-neko lah suami gw ini. Alhamdulillah yah :)

Jadi Lia apalagi alasan untuk mengeluhkan kekurangan waktu untuk ibadah haa???
Apalagi alasan untuk mengeluhkan nasib haaaa???
Atau masih tetep mimpi bisa jadi bagian keluarga Abu Bakrie? :p
*tepok jidat*