Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2012

Tahun Ketiga kita

Alhamdulillah udah tahun ketiga 'mengupas bawang' bersama Mr. J.

Gak ada perayaan, gak ada yang spesial, bahkan ketika pagi hari di tanggal 27 maret gw terbangun dan membisikkan di kuping Mr. J, ingat hari apa sekarang? dia balik nanya, apa? hahaha suamiku memang tak romantis tapi gw udah lama berdamai dengan itu.

Mungkin gw terlalu banyak nonton film2 romantis dan mengharapkan semua hal di film2 tersebut terjadi di kehidupan nyata gw.

Sore hari sepulang kerja dan menunggu waktu magrib tiba, gw, dafi dan Mr.J leyeh2 dan becandaan Dafi di kasur, gw masih belum putus asa dan kembali menanyakan ingat gak sekarang hari apa, dia tertawa, dan berkata "ingatlah tiga tahun yang lalu kita menikah dan tanpa terasa sekarang sudah ada dafi diantara kita, kalian berdua adalah duniaku"

Hahahha, sesederhana itu, dan hanya itu yang perlu bagi gw.

Bagi seorang yang melankolis dan romantis hal-hal kecil dan terlihat sepele tampak begitu penting. Dan menikah dengan pasangan yang mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang memang harus punya trik2 khusus. Yang pasti gw selalu berusaha menunjukkan apa yang gw mau, dan apa yang gw ingin, dia lakukan kepada gw. Bersyukur juga dia open minded dan memang lebih suka gw terbuka daripada menyimpan-nyimpan perasaan.

Tak banyak yang gw harapkan, semoga kami selalu bisa tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik seiring waktu. Saling mendukung dan menemani dalam suka dan duka. Saling mencintai dan menyayangi sampai maut memisahkan. Dan menjadi orangtua yang bertanggung jawab untuk anak2 kami. Amin.

Happy 3rd anniversary Uda, tak selalu bahagia namun duka pun pernah menghampiri tapi apapun itu gw ingin kita selalu bergandengan tangan melewatinya :)

Selasa, 27 Maret 2012

What's Your Number? Sebuah renungan :)

Beberapa hari lalu gw nonton film berjdul What's Your Number?' mungkin kalo dikategorikan sebagai makanan film ini semacam junk food gak ada gizinya tapi enak. Hehehe, maksud gw filmnya ga mutu tapi lumayan menghibur.

Berkisah tentang seorang cewek yang lagi galau karena gak pernah bisa bertahan dengan pasangannya, dan dia pun bingung karena adik permpuannya bakal menikah dan dia belum juga menemukan pasangan yang tepat untuk bisa diajak menghadiri pesta pernikahan adiknya, you know seseorang yang terlhat 'pantas' untuk kau kenalkan dengan ibumu :)

Sampai akhirnya dia dipecat oleh bossnya dan ketika dalam perjalanan pulang dari kantor di atas kereta dia tanpa sengaja membaca sebuah artikel yang berjudul 'Berapakah pria yang sudah kau tiduri?' menurut artikel itu batas maksimal adalah 20, kalau diatas 20, hampir dipastikan kau adalah perempuan yang ditakdirkan tidak akan pernah punya pasangan lagi..

Dia panik, dan mulai kesetanan mendata semua pria yang pernah kencan dengannya dan tau apa? Jumlahnya 19! Dia benar2 shock, dan bersumpah kalau pria ke 20 adalah yang akan jadi pasangan terakhirnya. :)

Di pesta pertunangan adiknya dia ketemu dengan boss yang memecatnya itu, dan karena terlalu mabuk tanpa sadar akhirnya dia pun tidur dengan sang mantan boss. Woalla..

Dia makin panik ketika mnayadari hal itu dan si mantan boss jelas2 bukanlah pria yang pantas untuk dijadikan pasangan seumur hidup.

Singkat cerita dia meminta bantuan the guy next door utk mencari para mantan2 pacarnya dulu, dengan harapan salah satu dari mereka bisa menjadi pacarnya lagi, jadi dia gak perlu kena 'kutukan angka ke 20' tersebut.

Bisa ditebak, dari semua mantan2 pacar yang bisa dihubungi itu gak ada satupun yang nyangkut, everybody's changing dan kau gak bisa mengubah seseorang/dirimu sendiri untuk menjadi sosok yang kau inginkan/orang lain inginkan. Bahkan seorang Jake Adam pun gak bisa mebuat dia benar2 jatuh cinta, seseorang yang hampir sempurna, yang dari dulu adalah pria impiannya.

Ending cerita, dia akhirnya menyadari orang yang benar2 tulus menerima dia apa adanya meskipun dia adalah seorang bitchi yg udah meniduri hampir 20 pria adalah si guy next door yang mebantunya mencari para mantan pacarnya itu. Pria yang bersamanya dia bahagia menjadi dirinya sendiri. Kedengarannya klise bukan?

Moral cerita adalah, kau bisa saja punya pasangan ideal dalam pikiranmu, seseorang yang cantik/ganteng, yang pintar namun tidak terlihat aneh, yang sopan namun tidak kaku, yang kaya dan berpendidikan tinggi, yang menyukai musik dan film yang juga kau sukai, yang memiliki minat dan hobi yang sama. But, hei orang2 seperti itu tidak pernah ada, gambaran 'sempurna' tentang seorang pasangan ideal itu tidak ada di dunia nyata dan kalau pun ada, ada aja hal-hal yang mebuatmu mungkin tidak bisa menerima mereka menjadi pasanganmu..

Seperti Ally tokoh di film ini, dia akhirnya bertemu mantan pacarnya Jake Adam seseorang yang sempurna, seseorang yang pernah menjadi sosok pasangan ideal di dalam impiannya, yang bahkan juga memintanya untuk menjadi pasangan hidupnya tapi Ally menolak karena dunia Jake sangat berbeda jauh dengan dunianya saat ini dan dia tidak mau terjebak dengan suatu hubungan dimana dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Simple.

OK, gw nulis ini karena sebelumnya sempat melihat beberapa 'mantan pasangan ideal di pikiran ababil gw dulu' di jejaring sosial dan tertawa geli. Gw tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau salah satu dari mereka yang jadi pasangan hidup gw sekarang. Melihat kehidupan mereka sekarang dan kehidupan gw sekarang rasanya gak mungkin bagi gw untuk bisa bahagia dengan mereka, atau mereka belum tentu juga bisa bahagia dengan gw. Semua memang sudah benar begini adanya, Tuhan sudah mengatur dengan benar dan pas. And I deal with it :)

Senin, 16 Mei 2011

Paijo dan Paijah

Love isn't enough!

Tersebutlah kisah Paijo dan Paijah (keduanya nama samaran). Pasangan serasi dan kompak yang pernah saya kenal. Sebelum memutuskan menikah mereka sudah pacaran kurang lebih 9 tahun, waktu yang sangat panjang bukan? Tidak diragukan lagi betapa mereka saling mencintai satu sama lain.

Mereka pernah mengalami masa-masa sulit, dari memohon restu orang tua Paijah yang kurang begitu senang dengan Paijo yang sederhana, sampai setelah mereka menikah dan jatuh bangun mendirikan usaha demi kelangsungan perekonomian mereka. Syukurlah sekarang mereka sudah mapan secara ekonomi dan dianugerahi tiga orang anak yang cantik-cantik. Trus dimana masalahnya?

Pernikahan selama 13 tahun ternyata sudah mengikis habis cinta mereka. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa orang yang pernah tergila-gila satu sama lain, yang begitu kompak dan serasi, yang benar-benar pasangan ideal bisa saling membenci. Kata Paijo, istrinya berselingkuh.

Versi Paijo :
Paijah istri tidak tahu diri, setelah gw ijinkan untuk meniti karir, malah jadi lupa diri. Bersolek untuk laki-laki lain, padahal gw rela mengasuh dan mengurus pekerjaan RT. Gw masih bisa kok menafkahi dia karena gw wiraswasta yang cukup sukses, tapi sebagai suami yang demokratis gw gak mau mengekang istri untuk melanjutkan mimpinya menjadi wanita karir. Tapi apa yg gw dapat? Dia tega mengkhianati suami dan anak-anaknya.

Versi Paijah :
Kami tidak sejalan lagi. Paijo tidak bisa masuk dalam pergaulan gw. Bicaranya juga gak nyambung. Maklum saja, Paijo kan bukan orang kantoran seperti gw. Kadang malu-maluin aja membawa Paijo ke lingkaran pergaulan gw.

Versi Gw:
Paijo terlalu mencintai Paijah, walaupun katanya sudah dikhianati dan segala macam sumpah serapah sudah dia lontarkan pada Paijah namun jauh dilubuk hatinya dia benar-benar takut kehilangan Paijah. Jujur gw salut dengan pengorbanan yang dilakukan Paijo untuk Paijah, mengurus anak dan rumah yang dilakukan sambil menjalankan usahanya. Memasak dan menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga, mengambil alih semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Paijah. Sungguh beruntung Paijah punya suami seperti Paijo. Paijah tinggal ongkang-ongkang kaki, dan mempercantik diri.

Gw gak tau dimana asal muasal karamnya biduk rumah tangga mereka, yang jelas sekarang Paijah udah lari dari rumah dan membawa ketiga anak mereka. Paijah juga sudah lama tidak menunaikan kewajibannya sebagai istri, bukankah dalam Islam itu sudah jatuh talak satu? Paijo bahkan pernah memergoki istrinya itu bersama laki-laki lain dan yang gw tidak habis pikir Paijo tidak berdaya untuk berbuat apa-apa.

Poor Paijo!

Teringat dari BBM yang dikirim oleh seoraang sahabat beberapa waktu lalu. Dalam pernikhan tidak cukup hanya cinta saja, tapi lebih dari itu yaitu komitmen, tanggung jawab. Mungkin dalam pernikahan cinta bisa saja pudar, tidak menggebu-gebu seperti ketika pacaran ataupun ketika masa bulan madu dulu. Namun ada yang mesti diingat, tanggung jawab kita sebagai suami dan istri yang sudah diikat dalam tali suci benama pernikahan. Bukankah itu janji kita dihadapan Allah?

Sebagai contoh:
Setiap ibu pastilah mencintai anaknya, tapi ketika anak menangis tengah malam, sedangkan dia sendiri sangat mengantuk, kemudian menukar popoknya ditengah malam buta, menggendong dan meninabobo-kan ketika dia sedang rewel bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi apa yang membuat si ibu tetap mau melakukannya? tanggung jawab!

Sekali lagi, menjalani pernikahan itu tidaklah mudah. Akan banyak kau temui cacat-cacat kecil dari pasanganmu. Kalau diributin, itu hanyalah cacat kecil tapi kalau dibiarkan tetap agak mengganggu. Kau mungkin juga akan menemukan, pasanganmu tidak lagi membuat penasaran dan gregetan seperti ketika masa pacaran dan PDKT dulu, dan itu sungguh kadang membuat hambar hari-harimu.

Tapi percayalah, kalau pun kau mencoba mencari sosok lain yang lebih sempurna dari pasanganmu yang sekarang, itu tidak menjamin dia tidak memiliki cacat-cacat kecil lain yang juga akan mengganggu :)

Kenapa tidak menghargai yang sudah dimiliki sekarang ini? Toh kita pun pasti memiliki cacat-cacat kecil. Manusia baru akan mengahargai sesuatu setelah dia kehilangan sesuatu itu. Jangan sampai sesal datang kemudian.

To: Paijah dan Paijo semoga mendapat jalan terbaik untuk masalah kalian.

Sabtu, 26 Maret 2011

dua tahun kita


Jam segini (10 malam keatas) adalah waktu buat gw bisa ngenet. Dafi dan bapaknya udah tidur pules. Ah, lucu banget liat mereka kaya' balapan tidur gitu. Dua jagoan yang paling berarti dalam hidup gw. Malam ini dua taun yang lalu gw masih ingat, gw ga bisa tidur karena besoknya akan melangsungkan akad nikah dengan bapaknya dafi. Ah, ga terasa udah dua taun aja gw nikah.

Dan apa yang gw rasain selama dua taun ini? Tentunya segala macam emosi ya. Mulai dari bahagia sampai sedih, mulai dari sebel sampai tersipu-sipu *aihh bahasa gw*, mulai dari sebagai istri sekarang udah jadi ibu juga, mulai dari yang langsing sampai gendut ga karu-karuan gini :p

Selama dua taun ini, gw makin mengenal watak bapaknya dafi, yah mengingat kami ga sempat pacaran dan kenal lebih dekat. Bapak dafi orangnya ga romantis, secara gw kan orangnya romantis bgt hehehe :D. Misalnya gw kan pengen banget sesekali dikasih kejutan apa kek gitu, atau gw juga pengen masakan gw sesekali dipuji, atau ngegombal gitu. Jujur gw suka banget sesekali digombalin ama suami sendiri. Tapi apa mau dikata bapaknya dafi emang ga bisa atau biasa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.

Semakin gw perhatiin, gw makin ngerti tiap orang punya standar berbeda dengan romantis. Gw yang keseringan liat film2 komedi romantis hollywood jadi sering uring2an ketika bapaknya dafi ga bersikap seperti aktor di film itu. Tapi gw bersyukur, bapaknya dafi pengertian banget dan ga pernah membiarkan gw ngerjain pekerjaan RT sendiri. Misalnya sejak kami menikah gw hanya dua bulan pertama yang nyuci baju, selebihnya sampai sebelum kami menggaji tukang cuci yang baru sebulan ini bekerja, dia yang nyuci baju. Trus dia juga ga segan nyapu rumah, teras ataupun makein baju dafi kalo abis mandi plus nyuapin makan.

Mungkin banyak juga suami2 lain ngelakuin hal yang sama tapi kalo di lingkungan tempat tinggal kami, bapaknya dafi termasuk 'makhluk langka' mengingat disini para suami adalah raja yang mesti dilayani dan 'haram' hukumnya membantu pekerjaan rumah tangga semacam nyuci, nyapu ato ngurus anak seperti yang bapaknya dafi lakuin. Dan gw bangga dengan dia :)

Soal makan, bapaknya dafi juga jarang muji masakan gw. Tapi sekalinya muji gw seneng banget berarti itu bener2 enak hahaha. Lagian gw juga sering merhatiin kalo makannya nambah berarti enak kalo ga nambah berarti standar, kalo makannya diselingi minum air berarti ga enak. Walo jarang muji tapi dia juga ga pernah ga makan apapun yang gw bikin alias ga pernah juga nyela masakan gw.

Soal ngasih hadiah/kejutan. Karena gw pengen dikasih kejutan tapi bapaknya dafi ga ngeh makanya gw yang ngasih dia kado/kejutan pas ultah misalnya. Gw pernah ngasih kemeja yang menurut gw keren banget dan harganya juga lumyan, plus juga kue ultah. Tau tanggapan dia apa? Biasa aja. Kesel ga sih? paling nanya, "beli berapa nih, pasti mahal ya?" duh, Mr. Jack ucapin makasih sambil ngecup kening istrimu kek ato pura2 kaget dan bilang kado dari gw bagus kek.

Tapi kembali ke wataknya dia yang emang lurus-lurus aja. Ya sudahlah. Cuma gw seneng aja, dia selalu make kemeja itu kalo ada acara2 penting :)

Pernah sih gw nanya kok dia ga pernah ngasih gw kejutan? ato ga pernah ngegombal gitu heheh. Paling dia cuma cengar cengir aja. Cuma gw jadi mikir,pas gw ultah emang ga ngasih surprise tapi langsung bawa gw ke toko dan beliin barang yang waktu itu gw pengen banget dan itupun sebulan setelah ultah gw :p juga pernah dia yang pulang kerja tiba2 nyodorin kwitansi pembayaran blablabla eh ga taunya dia beli sesuatu yang emang gw pengen dan malamnya dianterin ama yang punya toko. Atau ketika hari2 biasa tiba-tiba ngajak makan diluar.

Mungkin seperti itulah romantis versi bapaknya dafi.

Menjalani pernikahan memang tidak mudah. Apalagi seperti gw dan bapaknya dafi yang sebelumnya ga pacaran. Tapi pacran yang lama sebelum menikah pun juga tidak menjamin sebuah pernikahan akan langgeng dan baik-baik saja. Karena pernikahan sangat berbeda jauh dengan pacaran.

Bagimanakah caranya agar pernikahan langgeng? Orang bijak berkata : Kau hanya perlu jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama :)

Dan gw menambahkan : dan kau juga harus mencintai semua kekurangan pasanganmu :p

Happy 2nd anniversary Uda, Mr. Jack, Abi dan bapaknya Dafi. Semoga kita bisa saling jatuh cinta tiap hari. Jatuh cinta dengan semua kelebihan dan terutama KEKURANGAN kita masing-masing :)Dan semoga pernikahan ini mebawa kebahagiaan lahir batin bagi keluarga kecil kita. Amien

Jumat, 18 Desember 2009

OK, gw ga lajang lagi tp gw bahagia..

“Jadi, apa bedanya nikah dengan ketika lo masih lajang dulu”
Seorang sahabat bertanya kepada saya. Hmm, saya sempat tercenung sejenak sebelum menjawab pertanyaannya. Well, yang jelas bagi menikah membuat saya jauh lebih bertanggungjawab.

Sederhananya begini, ketika lajang saya bisa seenak hati saya kerja dari pagi sampai sore, malamnya pun masih sempat kongkow-kongkow ga jelas dengan teman-teman saya belum lagi pola makan dan pola hidup saya yang ga sehat. Dan saya bisa gak peduli dengan semua itu. Nah, dengan menikah saya lebih banyak berpikir sebelum melakukan sesuatu. Tidak ada lagi kerja dari pagi sampai sore *saya memang resign karena ngikut suami pindah ke kota lain*, saya lebih peduli dengan kesehatan dan pola hidup saya. Dan yang paling terasa saya jauh merasa lebih nyaman dengan hidup saya.

Pernah, tercetus pertanyaan betapa naifnya saya karena meninggalkan pekerjaan dan ngikut suami. Saya akui keputusan itu memang cukup berat, meninggalkan dunia kerja untuk menjadi ibu rumah tangga. Tapi setelah banyak pertimbangan saya akhirnya memilih meninggalkan pekerjaan saya. Saya tidak cukup siap mengarungi pernikahan jarak jauh, ditambah dengan perekenalan saya dengan suami yang begitu singkat sebelum akhirnya kami memutuskan menikah.

Mari berhitung:

Kalau saya tetap bekerja dan kami mengarungi pernikahan jarak jauh, mungkin saya tidak sempat mengenal lebih jauh suami saya, mengenali kebiasaan-kebiasaannya, memahami keinginan-keinginannya, kami juga tidak bisa melaksanakan fungsi suami istri secara utuh dan tentu saja berat diongkos.

Saya kerja dari Senin sampai Sabtu. OK, Sabtu Cuma setengah hari. Kalau tiap minggu saya mengunjungi suami, mungkin gaji saya habis diongkos saja. Kalaupun suami yang mengunjungi saya tentu lebih repot lagi, karena suami seorang wirasawasta tidak ada hari libur. Dan akhir pekan justru hari yang paling sibuk bagi dia. Kalaupun saya sekali dua minggu mengunjungi suami memang tidak berat diongkos namun waktu untuk bersama pun begitu sempit.

Lagian berapa sih gaji saya? Bukannya tidak bersyukur, cuma rasanya terlalu ‘kejam’ mengorbankan pernikahan kami ‘hanya’ demi gaji yang tidak seberapa itu. Toh, saya pun cuma karyawan kontrak yang jenjang karirnya mandeg.

Suami tetap mengijinkan saya hunting pekerjaan di kota baru saya. Dia gak pernah mengekang. Dan walau tidak pernah disinggung dari awal pernikahan, cuma ketika menikah ternyata dia sudah punya perhitungan sendiri soal keuangan keluarga. Wow, dia memang suami yang hebat walau saya tahu dia bukanlah pengusaha dengan omzet milyaran rupiah, tapi dia begitu disiplin mengelola keuangan dan tanpa bekerja pun saya diajari bagaimana bisa punya ‘penghasilan’ sendiri.

Tentu bukan dengan ikut wirausaha seperti dirinya. Nah, karena suami bukanlah orang gajian yang tiap bulan menerima gaji, saya dikasih belanja harian. Dari uang belanja harian itu saya bisa menabung sebesar Rp. X,- setiap bulan. Wow, bahkan ketika masih bekerja dulu saya begitu susah untuk menabung karena tiap bulan gaji saya habis untuk bayar biaya hidup saya saja.

Perbedaan lain antara menikah dengan lajang adalah, saya lebih perhitungan dengan uang. Hahha tapi dalam artian positif. Dulu ketika masih lajang saya terbiasa beli baju, sepatu, tas atau asesori lainnya tiap bulan. Walaupun tidak semua item, Cuma tiap bulan ada aja yang baru. Mana kepikiran untuk nabung apalagi investasi?

Awal-awal menikah kelakuan ketika lajang masih terbawa. Saya masih sering beli ini itu yang kalau dipikir-pikir ga begitu penting. Suami ga pernah melarang Cuma bertanya ‘barang itu penting gak?’ Setelah dua bulan pernikahan saya mulai bisa menkategorikan barang-barang yang dibutuhkan, barang-barang yang ‘Cuma lapar mata’ saja dan barang-barang yang ga punya nilai guna sama sekali. Dan ternyata ketika bisa memakai skala prioritas, tabungan saya membengkak ;)

Selanjutnya menikah membuat saya nyaman dan bahagia. Jujur saja, ketika belum dapat gambaran sama sekali tentang menikah saya takut sekali menjadi perawan tua. Ya, usia 25 tahun dengan status single adalah momok menakutkan bagi sebagian perempuan. Apalagi saya yang ketika itu tidak punya waktu untuk bersosialisasi. OK, teman2 saya banyak, kenalan banyak. Cuma saya merasa saya tidak punya waktu untuk bisa ‘mencari’ pasangan hidup yang sesuai dengan saya. Memang ada beberapa pria yang dekat ataupun yang saya sukai, Cuma saya meragukan keseriusan mereka. Saya butuh pria yang mau berkomitmen. Dan, bagai jatuh dari langit suami saya datang ‘menyelamatkan hidup’ saya *sok dramatis* :D

Kalau dipikir dengan akal sehat tidak masuk akal seorang saya yang sangat ‘picky’ bisa langsung memutuskan menikah dengan orang yang baru saya kenal, tapi kalau dipikir dengan ‘rasio Allah’ mungkin masuk akal saja. Saya ingin menikah dan ada orang yang mengajak saya menikah. Dan kami pun menikah. Yah, sesimpel itu ;)

Rabu, 11 November 2009

: Merayakan Cinta!

Menikah adalah keputusan yang paling berani dan paling 'nekat' yang pernah saya lakukan seumur hidup saya. Keputusan itu sempat membuat terkaget-kaget keluarga besar saya, orang-orang terdekat saya, sahabat-sahabat saya dan teman-teman saya baik teman dunia nyata maupun dunia maya :)

Ah, jangankan orang lain, saya sendiripun sempat terkaget ketika saya sadar saya memutuskan menikah dengan orang yang kurang dari 6 bulan saya kenal. Dengan komunikasi yang cukup intensif dan tatap muka alias bertemu langsung sebanyak dua kali. Lebih tepatnya cuma satu kali karena pertemuan pertama ketika dia datang kerumah saya dengan keluarganya, saya cuma melihat sekilas dan tidak sempat mengingat persis wajahnya apalagi ngobrol! Dan pertemuan kedua ketika kami 'sepakat' untuk menikah namun saya ingin 'memastikan' dulu bahwa dia adalah nyata bukan orang yang hanya saya kenal suaranya saja ;)

Dan, begitulah pertemuan ketiga kami ketika sudah di kantor KUA untuk mengikuti 'semacam ceramah ataupun nasehat' dari seorang ustadz tentang bagaimana berrumah tangga. Pertemuan keempat di mesjid ketika dia mengucapkan ijab kabul dengan papa saya. Pernikahan yang sangat-sangat instan! Sayapun masih terlongong-longong ketika saksi mengucapkan sah setelah dia dan papa saya selesai melaksanakan ijab kabul. W-O-W-! Saya istri seseorang sekarang! Saya akan memasuki dunia baru dan menghabiskan insyaallah sepanjang hidup saya dengan orang yang saya sebut suami yang sama sekali belum begitu saya kenal. Bahkan wajahnya masih terasa begitu asing bagi saya. W-O-W-! Saya benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaan saya waktu itu, takjub, tidak percaya dan masih bertanya-tanya apakah saya salah mengambil keputusan ataukah saya sedang bermimpi?!

Saya orang yang sangat percaya dengan proses maksudnya dalam setiap keputusan ataupun hal-hal besar dalam hidup saya selalu saya timbang dengan matang, begitupun dengan rencana-rencana saya semuanya berjalan dengan proses yang memakan waktu yang cukup lama tidak bisa instan! Dan satu-satunya hal yang instan dalam hidup saya adalah menikah dengannya!

Namun, saya tidak pernah menyesalinya. Saya bersyukur saya 'keluar dari jalur normal' saya ketika memutuskan menikah dengannya karena saya percaya kami menikah dengan tujuan yang sama yaitu karena kami memang ingin menikah. Bukan karena cinta, bukan karena -aku tidak bisa hidup tanpamu, ataupun hal2 sentimentil lainnya. Kami memutuskan menikah karena kami ingin melanjutkan hidup dengan seseorang yang bersedia untuk selalu memenami, mendukung dan berkompromi dalam suka dan duka.

Barangkali lantas timbul pertanyaan apakah saya mencintai suami saya? Bohong kalau saya bilang saya mencintainya, karena saya percaya cinta tidak mungkin bisa tumbuh dalam waktu yang sangat singkat 6 bulan apalagi kami cuma bertemu sekali. Tapi saya tidak bisa memungkiri kalau saya jatuh suka dengan dia. Pandangan-pandangan hidupnya, cara bicaranya, rencana-rencana masa depannya dan hal-hal lain yang tidak bisa saya jelaskan yang entah kenapa bisa membuat saya yakin kalau saya ingin menikah dengannya. Ajaib!

Bahkan, saya rela meninggalkan pekerjaan yang sangat saya cintai
(sebenarnya tidak juga karena adakalanya saya jenuh dengan pekerjaan saya yang hampir menyitua seluruh waktu dan energi yang saya punya!) dan mau berkompromi untuk ikut dengannya karena kami berdua bukanlah penganut 'menikah-jarak-jauh- yang belakangan ini sepertinya sudah merupakan hal yang biasa. Ah, bagaimana pula saya bisa menjalani -menikah dengan orang yang belum begitu saya kenal dan setelah menikah tinggal berlainan kota pula-. Alangkah rumitnya!

O,ya tidak perlu saya ceritakan bagaimana lucunya ketika pesta telah usai ;) cuma 3 hari setelah menikah saya langsung diboyong ke kota ini. Ada bagusnya juga jauh dari orang tua kami masing-masing. Kami bisa merancang sendiri rumah tangga seperti apa yang akan kami bangun. Tanpa perlu ikut campur tangan keluarga saya ataupun keluarganya. Bukannya menepikan arti keluarga besar tapi untuk urusan yang satu ini kami sepakat untuk mandiri dan berangkat dari nol :). Alhamdulillah menemukan orang sepertinya untuk merancang masa depan.

Sekarang pernikahan kami sudah berjalan hampir 8 bulan, selama itu alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan lebih banyak lucunya. Ah, barangkali seperti pacaran setelah menikah ;) Dan seperti proses yang selalu saya yakini ternyata cinta bisa tumbuh karena kebersamaan. Bersama melewati masa-masa pengenalan pribadi masing-masing, kebiasaan-kebiasaan masing-masing, dan bersama melewati saat-saat yang berat dalam pernikahan kami.

Oh, ya saya hampir 'menjadi' seorang ibu dan kami hampir menjadi orang tua namun ternyata Allah punya encana lain. Beberapa hari sebelum ulang tahun kami berdua yang sama-sama jatuh pada bulan Juli kemarin calon bayi kami terpaksa diangkat karena 'kurang baik' menurut dokter. Ah, kado yang yang sangat spesial dari Allah. Kami terpuruk dalam kesedihan namun tidak larut. Toh, lewat 'kado spesial' itu Allah membukakan hati dan menyadarkan saya: Hey, ternyata saya (telah) mencintai suami saya. Saya sadar saya jatuh cinta ketika dia dengan mata yang memerah menenangkan saya, meredakan tangis saya bahkan ketika dia-pun sebenarnya ingin menangis!. Saya sadar saya jatuh cinta ketika dia mengurus saya dengan begitu baik, hampir seperti seorang ibu yang merawat anaknya. Mengurusi semua keperluan saya ketika saya harus bedrest, tanpa bantuan siapapun karena kami jauh dari keluarga dan sanak saudara. Barangkali cinta ataupun hubungan emosi akan terjalin dengan erat ketika kita melewati hal yang beratsecara bersama-sama.

Saya selalu berdoa agar Dia yang Maha Cinta memberikan keajaiban cinta-Nya kepada kami. Agar saya dan dia bisa saling jatuh cinta setiap hari, setiap nafas yang masih tersisa. Amien!

.....

Setiap orang pastilah memiliki jalan sendiri dalam menemukan pasangan hidupnya. Ada yang terjal berliku, ada yang unik dan diluar nalar manusia atau ada yang mudah. Apapun itu saya berharap bagaimanapun jalan yang anda tempuh untuk menemukannya, syukurilah dia sebagai anugerah terindah yang diberikan Sang Maha Cinta untuk anda. Bagi anda yang belum menemukannya jangan pernah putus asa, karena dia akan datang pada waktu yang tepat walau anda pikir 'mustahil' sekalipun.

Selamat mencari dan merayakan cinta!