Obrolan tentang kehidupan setelah menikah dan sebelum menikah memang gak ada habisnya ya. Seringnya gw dengar, yang masih lajang bilang pengen menikah, yang udah menikah bilang pengen megulang lagi masa2 menjadi lajang :D
Kepada taman2 gw yang masih lajang yang beberapa dari mereka pernah curhat masalah ini, gw ingin katakan kehidupan pernikahan tidak melulu indah seperti yang kalian bayangkan. Gw mau ceritain yang realistisnya dulu aja deh, dan ini gw ambil dari pengalaman gw dan pengalaman teman2, kenalan dan orang2 lain yang juga sudah menikah.
1. gak bisa lagi 'egois' maksud gw , ketika menikah kita mau gak mau, sadar ata tidak sadar umumnya lebih mendahulukan kepentingan/kebutuhan pasangan/anak daripada kepentingan kita sendiri..ex: setelah semua urusan suami dan anak kelar, sisa2 waktu baru digunain untuk diri sendiri.
2. pikiran bercabang2, ketika masih lajang mungkin yang umumnya dipikiran hanya soal pekerjaan dan soal cinta. Namun ketika menikah dan punya anak, otak tidak pernah berhenti berpikir, soal uang, soal rumah, tagihan ini itu, kesehatan anak, perkembangan anak, kebutuhan/keinginan pasangan, orang tua, mertua, saudara, ipar2, dan tetek bengek urusan rumah tangga lainnya, dll.dll.dll
Walau juga tidak memungkiri, seberat apapun kehidupan yang dijalani, tetap menyenangkan ketika kita melaluinya dengan bergandengan tangan dengan pasangan, atau ketika sedang sedih dan gembira tetap lebih menyenangkan ada seseorang untuk dipeluk daripada merasakannya seorang diri :)
Tapiii..bagi teman2 yang lajang, kalian kadang juga sumber 'keirian' bagi para kaum yang sudah menikah. Bebas jalan kemanapun, bebas mau melakukan apapun, gak harus mikirin ini itu, lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan bebas tebar pesona kemanapun hahahaha..
Jadi intinya sih, baik menikah atau belum/tidak menikah hanya soal waktu dan pilihan hidup masing-masing kita. Dan kebahagiaan bukan terletak pada apakah kita sudah menikah atau belum menikah. Toh ada juga pasangan yang menderita lahir batin setelah menikah dan memilih perceraian sebagai jalan keluar. Dan ada juga lajang bahagia walaupun udah mau 40 tahun. ;)
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Minggu, 15 April 2012
Selasa, 27 Maret 2012
What's Your Number? Sebuah renungan :)
Beberapa hari lalu gw nonton film berjdul What's Your Number?' mungkin kalo dikategorikan sebagai makanan film ini semacam junk food gak ada gizinya tapi enak. Hehehe, maksud gw filmnya ga mutu tapi lumayan menghibur.
Berkisah tentang seorang cewek yang lagi galau karena gak pernah bisa bertahan dengan pasangannya, dan dia pun bingung karena adik permpuannya bakal menikah dan dia belum juga menemukan pasangan yang tepat untuk bisa diajak menghadiri pesta pernikahan adiknya, you know seseorang yang terlhat 'pantas' untuk kau kenalkan dengan ibumu :)
Sampai akhirnya dia dipecat oleh bossnya dan ketika dalam perjalanan pulang dari kantor di atas kereta dia tanpa sengaja membaca sebuah artikel yang berjudul 'Berapakah pria yang sudah kau tiduri?' menurut artikel itu batas maksimal adalah 20, kalau diatas 20, hampir dipastikan kau adalah perempuan yang ditakdirkan tidak akan pernah punya pasangan lagi..
Dia panik, dan mulai kesetanan mendata semua pria yang pernah kencan dengannya dan tau apa? Jumlahnya 19! Dia benar2 shock, dan bersumpah kalau pria ke 20 adalah yang akan jadi pasangan terakhirnya. :)
Di pesta pertunangan adiknya dia ketemu dengan boss yang memecatnya itu, dan karena terlalu mabuk tanpa sadar akhirnya dia pun tidur dengan sang mantan boss. Woalla..
Dia makin panik ketika mnayadari hal itu dan si mantan boss jelas2 bukanlah pria yang pantas untuk dijadikan pasangan seumur hidup.
Singkat cerita dia meminta bantuan the guy next door utk mencari para mantan2 pacarnya dulu, dengan harapan salah satu dari mereka bisa menjadi pacarnya lagi, jadi dia gak perlu kena 'kutukan angka ke 20' tersebut.
Bisa ditebak, dari semua mantan2 pacar yang bisa dihubungi itu gak ada satupun yang nyangkut, everybody's changing dan kau gak bisa mengubah seseorang/dirimu sendiri untuk menjadi sosok yang kau inginkan/orang lain inginkan. Bahkan seorang Jake Adam pun gak bisa mebuat dia benar2 jatuh cinta, seseorang yang hampir sempurna, yang dari dulu adalah pria impiannya.
Ending cerita, dia akhirnya menyadari orang yang benar2 tulus menerima dia apa adanya meskipun dia adalah seorang bitchi yg udah meniduri hampir 20 pria adalah si guy next door yang mebantunya mencari para mantan pacarnya itu. Pria yang bersamanya dia bahagia menjadi dirinya sendiri. Kedengarannya klise bukan?
Moral cerita adalah, kau bisa saja punya pasangan ideal dalam pikiranmu, seseorang yang cantik/ganteng, yang pintar namun tidak terlihat aneh, yang sopan namun tidak kaku, yang kaya dan berpendidikan tinggi, yang menyukai musik dan film yang juga kau sukai, yang memiliki minat dan hobi yang sama. But, hei orang2 seperti itu tidak pernah ada, gambaran 'sempurna' tentang seorang pasangan ideal itu tidak ada di dunia nyata dan kalau pun ada, ada aja hal-hal yang mebuatmu mungkin tidak bisa menerima mereka menjadi pasanganmu..
Seperti Ally tokoh di film ini, dia akhirnya bertemu mantan pacarnya Jake Adam seseorang yang sempurna, seseorang yang pernah menjadi sosok pasangan ideal di dalam impiannya, yang bahkan juga memintanya untuk menjadi pasangan hidupnya tapi Ally menolak karena dunia Jake sangat berbeda jauh dengan dunianya saat ini dan dia tidak mau terjebak dengan suatu hubungan dimana dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Simple.
OK, gw nulis ini karena sebelumnya sempat melihat beberapa 'mantan pasangan ideal di pikiran ababil gw dulu' di jejaring sosial dan tertawa geli. Gw tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau salah satu dari mereka yang jadi pasangan hidup gw sekarang. Melihat kehidupan mereka sekarang dan kehidupan gw sekarang rasanya gak mungkin bagi gw untuk bisa bahagia dengan mereka, atau mereka belum tentu juga bisa bahagia dengan gw. Semua memang sudah benar begini adanya, Tuhan sudah mengatur dengan benar dan pas. And I deal with it :)
Berkisah tentang seorang cewek yang lagi galau karena gak pernah bisa bertahan dengan pasangannya, dan dia pun bingung karena adik permpuannya bakal menikah dan dia belum juga menemukan pasangan yang tepat untuk bisa diajak menghadiri pesta pernikahan adiknya, you know seseorang yang terlhat 'pantas' untuk kau kenalkan dengan ibumu :)
Sampai akhirnya dia dipecat oleh bossnya dan ketika dalam perjalanan pulang dari kantor di atas kereta dia tanpa sengaja membaca sebuah artikel yang berjudul 'Berapakah pria yang sudah kau tiduri?' menurut artikel itu batas maksimal adalah 20, kalau diatas 20, hampir dipastikan kau adalah perempuan yang ditakdirkan tidak akan pernah punya pasangan lagi..
Dia panik, dan mulai kesetanan mendata semua pria yang pernah kencan dengannya dan tau apa? Jumlahnya 19! Dia benar2 shock, dan bersumpah kalau pria ke 20 adalah yang akan jadi pasangan terakhirnya. :)
Di pesta pertunangan adiknya dia ketemu dengan boss yang memecatnya itu, dan karena terlalu mabuk tanpa sadar akhirnya dia pun tidur dengan sang mantan boss. Woalla..
Dia makin panik ketika mnayadari hal itu dan si mantan boss jelas2 bukanlah pria yang pantas untuk dijadikan pasangan seumur hidup.
Singkat cerita dia meminta bantuan the guy next door utk mencari para mantan2 pacarnya dulu, dengan harapan salah satu dari mereka bisa menjadi pacarnya lagi, jadi dia gak perlu kena 'kutukan angka ke 20' tersebut.
Bisa ditebak, dari semua mantan2 pacar yang bisa dihubungi itu gak ada satupun yang nyangkut, everybody's changing dan kau gak bisa mengubah seseorang/dirimu sendiri untuk menjadi sosok yang kau inginkan/orang lain inginkan. Bahkan seorang Jake Adam pun gak bisa mebuat dia benar2 jatuh cinta, seseorang yang hampir sempurna, yang dari dulu adalah pria impiannya.
Ending cerita, dia akhirnya menyadari orang yang benar2 tulus menerima dia apa adanya meskipun dia adalah seorang bitchi yg udah meniduri hampir 20 pria adalah si guy next door yang mebantunya mencari para mantan pacarnya itu. Pria yang bersamanya dia bahagia menjadi dirinya sendiri. Kedengarannya klise bukan?
Moral cerita adalah, kau bisa saja punya pasangan ideal dalam pikiranmu, seseorang yang cantik/ganteng, yang pintar namun tidak terlihat aneh, yang sopan namun tidak kaku, yang kaya dan berpendidikan tinggi, yang menyukai musik dan film yang juga kau sukai, yang memiliki minat dan hobi yang sama. But, hei orang2 seperti itu tidak pernah ada, gambaran 'sempurna' tentang seorang pasangan ideal itu tidak ada di dunia nyata dan kalau pun ada, ada aja hal-hal yang mebuatmu mungkin tidak bisa menerima mereka menjadi pasanganmu..
Seperti Ally tokoh di film ini, dia akhirnya bertemu mantan pacarnya Jake Adam seseorang yang sempurna, seseorang yang pernah menjadi sosok pasangan ideal di dalam impiannya, yang bahkan juga memintanya untuk menjadi pasangan hidupnya tapi Ally menolak karena dunia Jake sangat berbeda jauh dengan dunianya saat ini dan dia tidak mau terjebak dengan suatu hubungan dimana dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Simple.
OK, gw nulis ini karena sebelumnya sempat melihat beberapa 'mantan pasangan ideal di pikiran ababil gw dulu' di jejaring sosial dan tertawa geli. Gw tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau salah satu dari mereka yang jadi pasangan hidup gw sekarang. Melihat kehidupan mereka sekarang dan kehidupan gw sekarang rasanya gak mungkin bagi gw untuk bisa bahagia dengan mereka, atau mereka belum tentu juga bisa bahagia dengan gw. Semua memang sudah benar begini adanya, Tuhan sudah mengatur dengan benar dan pas. And I deal with it :)
Sabtu, 17 Maret 2012
Dasar 'Padang' :p
Lagi misuh-misuh gak jelas nih, sampai detik ini gw masih gak abis pikir kenapa ada manusia seperti perempewi itu yang luar biasa pelitnya. Aduh, capek gak sih berhubungan dengan orang yang hitung-hitungannya ampun-ampunan banget kaya dia?
Kalo orang bilang, Padang banget lu. Kalau merantau ke daerah lain orang umumnya menyimpulkan kalau seseorang pelit pasti orang Padang, padahal gak juga kok. Klo pelit ya pelit aja gak mesti karena dia berasal dari daerah tertentu. Cuma kebetulan perempewi ini memang orang padang juga ahhahaha :D
Hidup memang perlu banget hitung-hitungan. Cuma ya jangan sekejam itu juga lho hitungannya, apalagi soal bisnis. Dalam bisnis memang menganut prinsip modal kecil untung besar, tapi gw belum pernah nemu bisnis yang gak bermodal sama sekali. Bisnis apaan tuh? Masak ga mau keluar modal? bisnis apa bu? bisnis kentut? :p
Apalagi dia udah surplus berkali-kali, dan untuk mengeluarkan dana sekecil itu aja ogah? Bahkan mungkin harga makan siangnya aja lebih mahal dari modal yang harus dikeluarkan itu.
Pada awalnya gw senang melihat ambisi dan semangatnya, orangnya lihai juga dan cocok lah untuk bisnis ini. Tapi setelah kejadian kemaren gw tercengang, ternyata bukan orang seperti itu yang gw cari sebagai 'core team'. So bye bye ajalah :)
Kalo orang bilang, Padang banget lu. Kalau merantau ke daerah lain orang umumnya menyimpulkan kalau seseorang pelit pasti orang Padang, padahal gak juga kok. Klo pelit ya pelit aja gak mesti karena dia berasal dari daerah tertentu. Cuma kebetulan perempewi ini memang orang padang juga ahhahaha :D
Hidup memang perlu banget hitung-hitungan. Cuma ya jangan sekejam itu juga lho hitungannya, apalagi soal bisnis. Dalam bisnis memang menganut prinsip modal kecil untung besar, tapi gw belum pernah nemu bisnis yang gak bermodal sama sekali. Bisnis apaan tuh? Masak ga mau keluar modal? bisnis apa bu? bisnis kentut? :p
Apalagi dia udah surplus berkali-kali, dan untuk mengeluarkan dana sekecil itu aja ogah? Bahkan mungkin harga makan siangnya aja lebih mahal dari modal yang harus dikeluarkan itu.
Pada awalnya gw senang melihat ambisi dan semangatnya, orangnya lihai juga dan cocok lah untuk bisnis ini. Tapi setelah kejadian kemaren gw tercengang, ternyata bukan orang seperti itu yang gw cari sebagai 'core team'. So bye bye ajalah :)
Rabu, 08 Februari 2012
antara gw, merry riana dan resolusi 2012
Kemaren abis donlot buku merry ryana yang berjudul dare To Dream Big. Siapa sih yang ga kenal cewek tajir ini? Yang lagi booming2nya di media sosial. Cewek yang udah jadi milyuner di usia 26 tahun.
Yah, berhubung ada sesuatu yang gw ga tau apa di jaringan internet, buku tersebut ga berhasil di donlot sodara sodara! Tapi gw masih sempat baca sekilas isi buku tersebut yang sayangnya berbahasa Inggris. Dan dengan kemampuan Bahasa Inggris gw yang minim, gw berhasil mendapatkan beberapa poin penting dari buku tsb. Ini dia:
Yang paling penting dalam bisnis adalah : 3C, Capital, Contacts dan Capabilities
Kalimat yang juga paling ngena di gw adalah:
"Hard work always pays off, it's juat a matter of time". If you want to be successful, you need to be prepared not only to work hard, but to work REALLY HARD. There's no elevator to success. You have to take the stairs.
Udah itu aja yang sempat gw catet, sebelum semuanya ilang hehehe.
Hasrat gw untuk kembali menekuni bisnis online gw otomatis menyala lagi setelah membaca bukunya yang walau sekilas itu. Gila bisnis online yang gw jalanin itu gak main-main ternyata, tapi level dunia. Ngeces abis liat pencapaian-pencapain yang sudah di dapat oleh leader ataupun temen2 yang sama-sama merintis ama gw dulu. Mereka udah kemana-mana gw masih disini sini aja.
Ok, cukup sudah menyesali diri dan 'iri'dengan pencapaian orang lain, saatnya sekarang gw membenahi niat, cara kerja dan mind set gw soal kesuksesan itu sendiri. Insyaallah tahun 2012 ini tahun kebangkitan gw untuk mencapai tujuan utama gw yaitu 'kebebasan waktu dan finansial'
Aamiin.
NB ; Akhirnya gw punya resolusi juga untuk tahun ini :p
Yah, berhubung ada sesuatu yang gw ga tau apa di jaringan internet, buku tersebut ga berhasil di donlot sodara sodara! Tapi gw masih sempat baca sekilas isi buku tersebut yang sayangnya berbahasa Inggris. Dan dengan kemampuan Bahasa Inggris gw yang minim, gw berhasil mendapatkan beberapa poin penting dari buku tsb. Ini dia:
Yang paling penting dalam bisnis adalah : 3C, Capital, Contacts dan Capabilities
Kalimat yang juga paling ngena di gw adalah:
"Hard work always pays off, it's juat a matter of time". If you want to be successful, you need to be prepared not only to work hard, but to work REALLY HARD. There's no elevator to success. You have to take the stairs.
Udah itu aja yang sempat gw catet, sebelum semuanya ilang hehehe.
Hasrat gw untuk kembali menekuni bisnis online gw otomatis menyala lagi setelah membaca bukunya yang walau sekilas itu. Gila bisnis online yang gw jalanin itu gak main-main ternyata, tapi level dunia. Ngeces abis liat pencapaian-pencapain yang sudah di dapat oleh leader ataupun temen2 yang sama-sama merintis ama gw dulu. Mereka udah kemana-mana gw masih disini sini aja.
Ok, cukup sudah menyesali diri dan 'iri'dengan pencapaian orang lain, saatnya sekarang gw membenahi niat, cara kerja dan mind set gw soal kesuksesan itu sendiri. Insyaallah tahun 2012 ini tahun kebangkitan gw untuk mencapai tujuan utama gw yaitu 'kebebasan waktu dan finansial'
Aamiin.
NB ; Akhirnya gw punya resolusi juga untuk tahun ini :p
Sabtu, 21 Januari 2012
pengakuan
Kenapa Tuhan menciptakan kehidupan manusia tidak ada yang sempurna? Barangkali agar manusia tidak sombong dan senantiasa bersyukur atas hal yang diberikan padanya yang justru tidak diberikan kepada orang lain.
Gw hanya ingat gurauan seorang teman beberapa waktu lalu, " Gw iri sama lu, punya keluarga kecil bahagia". Mungkin konsep 'iri' dia adalah karena dia tidak (belum) berada pada tahap seperti yang gw jalani sekarang, menikah dan punya anak, sedangkan dia sangat ingin. Dia adalah lajang yang sukses di pekerjaan dan pendidikan. Well, jujur di lain waktu justru gw yang kadang 'iri' pada dia. Pekerjaan menyenangkan dan bergaji besar, sudah lulus S2 pula dimana didapat dari beasiswa, trus puas jalan2 kemana kemana tanpa harus mikirin biaya ataupun keluarga. See? Kadang 'iri' muncul ketika kita menginginkan kehdupan orang lain yang terlihat sempurna di mata kita.
Di lain waktu seorang teman lain, juga berurai airmata menceritakan kisah cintanya yang selalu kandas padahal dia sangat ingin menikah. Dia juga wanita karir yang sukses, supel, dan cantik. Rasa-rasanya hanya lelaki bodoh yang mau mencampakkan dia. Tapi apa daya itulah yang terjadi.
Ada lagi teman gw yang juga sudah mapan dalam pekerjaan dan usia yang juga udah matang untuk berumah tangga juga mengeluhkan tentang jauhnya jodoh.
Kalau dipikir-pikir gw punya belasan teman teman wanita lajang yang sukses dalam karir. Mereka adalah perempuan baik-baik, terpelajar, berusia mendekati kepala tiga, bahkan ada yang sudah lebih dari kepala tiga dan sedang galau menanti datangnya jodoh.
Kadang tiap kali bertukar kabar, gw gak mau menyinggung-nyinggung soal 'kapan menikah?' pada mereka. Hal-hal semacam itu bisa sangat sensitif bukan?, sama halnya ketika kita sudah menikah lebih dari setahun dan belum punya anak ditanya 'kapan punya anak?'. Dan gw pernah berada pada kondisi seperti itu, sehingga paling nggak gw mengerti bagaimana rasanya ditanya hal yang kita gak mampu menjawabnya :)
Tidak hanya teman-teman wanita, teman-teman pria pun juga banyak yang sangat matang dan belum menikah, bahkan ada yang mendekati kepala empat. Entah mereka begitu rapi menyimpan kegundahan tentang jodoh yang belum datang atau memang mereka tidak terlalu memusingkannya, tapi gw melihat mereka menikmati saja kesendirian mereka. Lagian tidak semua manusia juga barangkali yang menjadikan menikah, punya anak dan hidup mapan sebagai tujuan hidup.
Mungkin tidak perlu harus membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Kita yang tau persis apa yang terbaik untuk kita, apa tujuan hidup kita, apa pencapaian yang kita inginkan, apa hal-hal yang membuat kita bahagia.
Seperti kata seorang teman di status FB-nya 'tidak perlu berkecil hati dengan perbedaan takdir yang diberikan Tuhan, pasti ada hikmah dibalik semua itu'
Ada yang dianugerahi anak namun kesulitan secara finasial, dan ada yang tidak dianugerahi anak namun kaya raya. Ada yang punya suami/pasangan namun sering disakiti, dan ada yang malah jangankan untuk punya suami, lawan jenis saja begitu sulit untuk mendekat. Bahkan seorang yang terlihat memiliki kehidupan yang nyaris sempurna pun pasti punya masalah tersendiri.
Diperlukan kekuatan dalam diri kita untuk ikhlas menerima apa adanya diri kita sambil terus berupaya memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.
Pengakuan : Gw perempuan berusia hampir 29 tahun, ibu seorang batita, mantan wanita karir (yang tidak terlalu sukses), lulusan D3 yang tidak terlalu pintar, mantan penyiar radio yang tidak terlalu hebat. Seorang ibu rumah tangga yang tidak terlalu cekatan mengurus rumah tangga, tidak (belum) bisa kreatif berbisnis dan belum meraih pencapaian apapun. :D
Yah apapun adanya diri gw dengan segala kekurangan dan ketidak istimewaan diri gw, setidaknya gw adalah orang yang paling dibutuhkan oleh anak gw :D dan orang yang dicintai suami gw, orang yang selalu didoakan oleh orang tua gw dan di sayangi oleh saudara-saudara gw. Mungkin itu lebih dari cukup.
Menerima apa adanya diri kita mudah-mudahan bisa membuat kita gak lagi harus iri dengan orang lain.
*ini sebenarnya postingan tentang apa sih?* :p
Gw hanya ingat gurauan seorang teman beberapa waktu lalu, " Gw iri sama lu, punya keluarga kecil bahagia". Mungkin konsep 'iri' dia adalah karena dia tidak (belum) berada pada tahap seperti yang gw jalani sekarang, menikah dan punya anak, sedangkan dia sangat ingin. Dia adalah lajang yang sukses di pekerjaan dan pendidikan. Well, jujur di lain waktu justru gw yang kadang 'iri' pada dia. Pekerjaan menyenangkan dan bergaji besar, sudah lulus S2 pula dimana didapat dari beasiswa, trus puas jalan2 kemana kemana tanpa harus mikirin biaya ataupun keluarga. See? Kadang 'iri' muncul ketika kita menginginkan kehdupan orang lain yang terlihat sempurna di mata kita.
Di lain waktu seorang teman lain, juga berurai airmata menceritakan kisah cintanya yang selalu kandas padahal dia sangat ingin menikah. Dia juga wanita karir yang sukses, supel, dan cantik. Rasa-rasanya hanya lelaki bodoh yang mau mencampakkan dia. Tapi apa daya itulah yang terjadi.
Ada lagi teman gw yang juga sudah mapan dalam pekerjaan dan usia yang juga udah matang untuk berumah tangga juga mengeluhkan tentang jauhnya jodoh.
Kalau dipikir-pikir gw punya belasan teman teman wanita lajang yang sukses dalam karir. Mereka adalah perempuan baik-baik, terpelajar, berusia mendekati kepala tiga, bahkan ada yang sudah lebih dari kepala tiga dan sedang galau menanti datangnya jodoh.
Kadang tiap kali bertukar kabar, gw gak mau menyinggung-nyinggung soal 'kapan menikah?' pada mereka. Hal-hal semacam itu bisa sangat sensitif bukan?, sama halnya ketika kita sudah menikah lebih dari setahun dan belum punya anak ditanya 'kapan punya anak?'. Dan gw pernah berada pada kondisi seperti itu, sehingga paling nggak gw mengerti bagaimana rasanya ditanya hal yang kita gak mampu menjawabnya :)
Tidak hanya teman-teman wanita, teman-teman pria pun juga banyak yang sangat matang dan belum menikah, bahkan ada yang mendekati kepala empat. Entah mereka begitu rapi menyimpan kegundahan tentang jodoh yang belum datang atau memang mereka tidak terlalu memusingkannya, tapi gw melihat mereka menikmati saja kesendirian mereka. Lagian tidak semua manusia juga barangkali yang menjadikan menikah, punya anak dan hidup mapan sebagai tujuan hidup.
Mungkin tidak perlu harus membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Kita yang tau persis apa yang terbaik untuk kita, apa tujuan hidup kita, apa pencapaian yang kita inginkan, apa hal-hal yang membuat kita bahagia.
Seperti kata seorang teman di status FB-nya 'tidak perlu berkecil hati dengan perbedaan takdir yang diberikan Tuhan, pasti ada hikmah dibalik semua itu'
Ada yang dianugerahi anak namun kesulitan secara finasial, dan ada yang tidak dianugerahi anak namun kaya raya. Ada yang punya suami/pasangan namun sering disakiti, dan ada yang malah jangankan untuk punya suami, lawan jenis saja begitu sulit untuk mendekat. Bahkan seorang yang terlihat memiliki kehidupan yang nyaris sempurna pun pasti punya masalah tersendiri.
Diperlukan kekuatan dalam diri kita untuk ikhlas menerima apa adanya diri kita sambil terus berupaya memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.
Pengakuan : Gw perempuan berusia hampir 29 tahun, ibu seorang batita, mantan wanita karir (yang tidak terlalu sukses), lulusan D3 yang tidak terlalu pintar, mantan penyiar radio yang tidak terlalu hebat. Seorang ibu rumah tangga yang tidak terlalu cekatan mengurus rumah tangga, tidak (belum) bisa kreatif berbisnis dan belum meraih pencapaian apapun. :D
Yah apapun adanya diri gw dengan segala kekurangan dan ketidak istimewaan diri gw, setidaknya gw adalah orang yang paling dibutuhkan oleh anak gw :D dan orang yang dicintai suami gw, orang yang selalu didoakan oleh orang tua gw dan di sayangi oleh saudara-saudara gw. Mungkin itu lebih dari cukup.
Menerima apa adanya diri kita mudah-mudahan bisa membuat kita gak lagi harus iri dengan orang lain.
*ini sebenarnya postingan tentang apa sih?* :p
Jumat, 20 Januari 2012
untitled
Baiklah, gw mau rutin ngeblog lagi *emang siapa yang mau baca?* hehehe. Pokoknya mau ngeblog lagi. Titik! Walau mungkin kebanyankan berisi curcol khas emak-emak beranak satu, yang 'hanya' ngurusin rumah tangga saja. Kedengarannya membosankan sekali ya? Hahhaha gapapa lah :D
Sebagai perempuan yang dulunya pernah bekerja a.k.a wanita karir dan juga punya segudang kesibukan lainnya, sempat bergaul dengan orang-orang 'hebat kreatif dan luar biasa', ide untuk menjadi ibu rumah tangga terdengar sedikit mengerikan. Awal-awal nya sih iya, gw tertekan merasa gak berarti dan segudang emosi negatif lainnya, tapi seiring berjalannya waktu semua perasaan itu hilang begitu saja.
Realistis aja deh kalo gw tetap bertahan kerja berarti gw bakal jalanin pernikahan jarak jauh ama suami dan jujur gw gak sanggup, trus mencari kerja disini setelah menikah juga susahnya minta ampun, dimana-mana umumnya kan perusahaan mencari yang masih singel, alhasil yah jadi ibu rumah tangga aja sambil waktu itu konsentrasi untuk punya anak *sebelumnya sempat di kuret* See? awal-awal pernikahan emang gak memungkinkan bagi gw untuk kembali berkarir di kantor.
Setelah punya anak juga sami mawon, malah tambah repot. Ninggalin anak sama pengasuh dan bekerja? Di kota antah berantah ini yang gw gak kenal siapapun selain suami gw, rasanya gw ga bisa mempercayai siapapun untuk mengurus bayi. Oke mungkin untuk saat ini gw emang jadi ibu rumah tangga aja, walaupun gw masih terus membangun mimpi2 dan rencana untuk tetap bisa bekerja. :)
Nah, dimulai lah pengalaman2 seru gw sebagai emak-emak muda beranak satu dan tidak bekerja. Bergaul dengan tetangga yang juga 'bernasib' sama, ibu rumah tangga. Yah, apalagi yang diobrolin selain kebiasaan anak, gimana makannya, gimana perkembangannya, kebiasaan suami bla bla bla, walaupun gw lebih sering sebagai pendengar daripada pihak yang bercerita.
Di tempat lama, gw ga begitu suka bergaul dengan mereka, bukannya apa-apa tapi gak ada positifnya. Tetangga gw sukanya ngerumpi gak jelas, gosipin si anu, buka aib si A, malah juga ceritain keburukan suami. Maka jadilah gw dianggap 'sombong' oleh mereka karena gak pernah ngumpul, keluar rumah juga kalau ada keperluan saja. Disana juga para tetangga tipikal senenag liat orang susah, susah liat orang senang. Kita beli ini, itu kadang di iriin. Atau kadang baik baik in kita dan ujung-ujungnya minjam duit, bukannya kita pelit tapi siapa yang mau minjamin duit dan duitnya gak dibayar dan pura-pura lupa? Asem dah, kita kan bukan pohon duit? Jadi begitulah, karena udah ga tahan lagi tinggal disana jadilah kami pindah. Dan ditambah lagi tetangga pas di depan rumah hobi banget berantem suami istri, trus anak dan ibu, menantu dan ipar. Ribet ya? Ya iyalah mereka tinggal beranak pinak disana, rame banget.
Awal Desember akhirnya kami resmi pindah dengan harapan disini jauh lebih baik daraipada disana. Gw bisa bertetangga, Dafi bisa ada temennya dan yang paling penting lingkungan juga kondusif. Alhamdulillah sejauh ini semua berjalan lancar dan sesuai harapan.
Mungkin negatifnya adalah, anak-anak disini (maaf) gak diurus dengan begitu telaten dan baik sama ibu mereka. Makan sembarangan, jajan ini itu, sampai-sampai gw ga habis pikir kok tega banget sih ngasih anak batita makanan instan? Mudah2an anak gw gak ikut2an suka jajan kaya teman2nnya disini. Amien.
Sebagai perempuan yang dulunya pernah bekerja a.k.a wanita karir dan juga punya segudang kesibukan lainnya, sempat bergaul dengan orang-orang 'hebat kreatif dan luar biasa', ide untuk menjadi ibu rumah tangga terdengar sedikit mengerikan. Awal-awal nya sih iya, gw tertekan merasa gak berarti dan segudang emosi negatif lainnya, tapi seiring berjalannya waktu semua perasaan itu hilang begitu saja.
Realistis aja deh kalo gw tetap bertahan kerja berarti gw bakal jalanin pernikahan jarak jauh ama suami dan jujur gw gak sanggup, trus mencari kerja disini setelah menikah juga susahnya minta ampun, dimana-mana umumnya kan perusahaan mencari yang masih singel, alhasil yah jadi ibu rumah tangga aja sambil waktu itu konsentrasi untuk punya anak *sebelumnya sempat di kuret* See? awal-awal pernikahan emang gak memungkinkan bagi gw untuk kembali berkarir di kantor.
Setelah punya anak juga sami mawon, malah tambah repot. Ninggalin anak sama pengasuh dan bekerja? Di kota antah berantah ini yang gw gak kenal siapapun selain suami gw, rasanya gw ga bisa mempercayai siapapun untuk mengurus bayi. Oke mungkin untuk saat ini gw emang jadi ibu rumah tangga aja, walaupun gw masih terus membangun mimpi2 dan rencana untuk tetap bisa bekerja. :)
Nah, dimulai lah pengalaman2 seru gw sebagai emak-emak muda beranak satu dan tidak bekerja. Bergaul dengan tetangga yang juga 'bernasib' sama, ibu rumah tangga. Yah, apalagi yang diobrolin selain kebiasaan anak, gimana makannya, gimana perkembangannya, kebiasaan suami bla bla bla, walaupun gw lebih sering sebagai pendengar daripada pihak yang bercerita.
Di tempat lama, gw ga begitu suka bergaul dengan mereka, bukannya apa-apa tapi gak ada positifnya. Tetangga gw sukanya ngerumpi gak jelas, gosipin si anu, buka aib si A, malah juga ceritain keburukan suami. Maka jadilah gw dianggap 'sombong' oleh mereka karena gak pernah ngumpul, keluar rumah juga kalau ada keperluan saja. Disana juga para tetangga tipikal senenag liat orang susah, susah liat orang senang. Kita beli ini, itu kadang di iriin. Atau kadang baik baik in kita dan ujung-ujungnya minjam duit, bukannya kita pelit tapi siapa yang mau minjamin duit dan duitnya gak dibayar dan pura-pura lupa? Asem dah, kita kan bukan pohon duit? Jadi begitulah, karena udah ga tahan lagi tinggal disana jadilah kami pindah. Dan ditambah lagi tetangga pas di depan rumah hobi banget berantem suami istri, trus anak dan ibu, menantu dan ipar. Ribet ya? Ya iyalah mereka tinggal beranak pinak disana, rame banget.
Awal Desember akhirnya kami resmi pindah dengan harapan disini jauh lebih baik daraipada disana. Gw bisa bertetangga, Dafi bisa ada temennya dan yang paling penting lingkungan juga kondusif. Alhamdulillah sejauh ini semua berjalan lancar dan sesuai harapan.
Mungkin negatifnya adalah, anak-anak disini (maaf) gak diurus dengan begitu telaten dan baik sama ibu mereka. Makan sembarangan, jajan ini itu, sampai-sampai gw ga habis pikir kok tega banget sih ngasih anak batita makanan instan? Mudah2an anak gw gak ikut2an suka jajan kaya teman2nnya disini. Amien.
Minggu, 01 Januari 2012
Bukan Resolusi loh yaa :p
Biasanya orang-orang sibuk bikin resolusi di tahun baru, tapi gw udah lama gak melakukannya. Dulu pernah sih, menulis dengan indah resolusi-resolusi yang pengen gw capai di tahun depan, cuma itu gak cukup berhasil sehingga gw gak lagi menjadikan pergantian tahun sebagai ajang untuk bikin resolusi-resolusian.
Beberapa tahun terakhir, tahun baru hanya bermakna : nonton semalaman sambil makan cemilan, karena biasanya tahun baru banyak acara2, atau film-film bagus tayang di tv , keluar rumah menyaksikan kembang api yang berpijar di langit ketika jam 12 teng dan kemudian beranjak tidur. Gak ada yang istimewa. Dan sebelas dua belas dengan suami, dia juga gak menganggap pergantian tahun itu hal yang istimewa, ditambah lagi dia gak biasa dan emang gak bisa begadang. Jam 9 aja kadang udah tidur pulas hehehe :D
Cuma memang ada beberapa rencana yang ingin gw lakuin di tahun ini, tapi tetap gak mau menamakan ini sebagai resolusi :p. Yang pertama segera mencari agen asuransi terbaik, dan gak mau menunda-nunda lagi. Bagaimanapun asuransi itu penting. Dan yang kedua segera mulai merenovasi rumah pertama kami. Mudah-mudahan tahun ini juga sudah bisa ditempati dan gak jadi 'kontraktor' lagi alias ngontrak rumah orang lagi :)
Rencana berikutnya adalah, gw harus bisa bikin pempek dengan baik dan benar. Well, gw udah pernah mencoba bikin pempek sekali dulu ketika masih hamil Dafi, cuma hasilnya tidak begitu memuaskan. Rasanya kurang afdhol aja, walopun gw dan suami sama-sama orang Padang, tapi kita tinggal dan menjadi bagian orang Palembang kok ya, gak bisa bikin pempek? hehehe :D
Namun, yang lebih penting adalah soal ibadah gw, jujur entah kenapa makin kesini ibadah gw makin 'alakadarnya' aja. Dibandingkan ketika masih gadis, gw rasa ibadah gw lebih lumayan dibanding udah jadi emak-emak gini. Dulu walopun gak rutin, gw selalu mengusahakan bisa sholat tahajud, sekarang gak pernah sama sekali, dulu dalam sebulan gw beberapa hari puasa sunat, sekarang hutang puasa bulan Ramadhan aja belum lunas samasekali, dulu juga hampir dibilang gak pernah tinggal sholat dhuha di kantor, sekarang jaraaaanngg banget. Dulu selalu mengaji abis sholat magrib dan subuh, sekarang juga jaraaaanng banget. Menyedihkan yaa :'(
Berbanding terbalik dengan suami, dulu ketika masih bujangan katanya ibadah juga alakadarnya aja, hanya menunaikan sholat2 wajib, trus puasa bulan ramadahan. Itu aja. Namun sejak menikah, gw liat dia makin berubah, setiap selesai sholat magrib selalu mengaji dan dalam setahun bisa khatam 2 kali. Sholat dhuha juga gak pernah absen, sebelum berangkat kerja, dia pasti sholat dhuha dulu. Gw sering diingetin untuk ngaji lagi bareng-bareng cuma dasarnya gw bandel entah kenapa enggan banget baca Al-Qur'an lagi. Help me God!
Gw selalu mudah menyalahkan kondisi untuk kelalaian gw, repot dan capek ngurus anak dan rumah sehingga gak sempat lagi untuk ngaji, atau bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Padahal kan, emang dasarnya gw yang gak pinter manajemen waktu.
Sebenarnya sih emang ya, jadi ibu rumah tangga itu capeknya minta ampun. Beda aja dibandingkan ibu bekerja. Karena 24 jam waktu kita tercurah untuk anak dan rumah. Mungkin kelihatan sepele, tapi coba dirasaian sendiri kalo gak percaya. Kasarnya sih capek lahir batin hahaha. Cuma kan, kalo dipikir-pikir gw harusnya bersyukur, suami gw mau turun tangan membantu gw. Berhubung bukan orang kantoran yang harus masuk kerja pagi jam 8 tapi suka-sukanya dia, gw lumayan tertolong, dia bisa bantuin jaga anak dan beberes rumah ketika misalnya gw pagi-pagi belanja kepasar dan kemudian masak. Atau bantuin nyuci pakaian, walo pake mesin cuci sih tetep aja kadang repot. Trus malamnya ketika Dafi rewel dan gw udah sangat capek, dia mau jagain dan nemenin sedangkan gw tidur cantik. Trus soal semua kebutuhan, Alhamdulillah tercukupi. Pengen sesuatu tinggal tunjuk *tapi gak semua hal juga sih, buktinya pas gw nunjuk minta dibeliin All New CRV gak dikasih tuh! Ok, gw nunjuknya berlebihan banget sih, Etapi pas nunjuk bathtub, shower dan peralatan kamar mandi lux lainnya, pas kita lagi liat-liat di ACE Hardware juga gak dikasih (emang mau ditaruh dimana bego, rumah kalian aja masih belum diapa-apain) :p*. Oke kembali ke topik, kalo gw lagi males masak, ya dia ngerti juga, trus kita makan diluar. Yah gak neko-neko lah suami gw ini. Alhamdulillah yah :)
Jadi Lia apalagi alasan untuk mengeluhkan kekurangan waktu untuk ibadah haa???
Apalagi alasan untuk mengeluhkan nasib haaaa???
Atau masih tetep mimpi bisa jadi bagian keluarga Abu Bakrie? :p
*tepok jidat*
Beberapa tahun terakhir, tahun baru hanya bermakna : nonton semalaman sambil makan cemilan, karena biasanya tahun baru banyak acara2, atau film-film bagus tayang di tv , keluar rumah menyaksikan kembang api yang berpijar di langit ketika jam 12 teng dan kemudian beranjak tidur. Gak ada yang istimewa. Dan sebelas dua belas dengan suami, dia juga gak menganggap pergantian tahun itu hal yang istimewa, ditambah lagi dia gak biasa dan emang gak bisa begadang. Jam 9 aja kadang udah tidur pulas hehehe :D
Cuma memang ada beberapa rencana yang ingin gw lakuin di tahun ini, tapi tetap gak mau menamakan ini sebagai resolusi :p. Yang pertama segera mencari agen asuransi terbaik, dan gak mau menunda-nunda lagi. Bagaimanapun asuransi itu penting. Dan yang kedua segera mulai merenovasi rumah pertama kami. Mudah-mudahan tahun ini juga sudah bisa ditempati dan gak jadi 'kontraktor' lagi alias ngontrak rumah orang lagi :)
Rencana berikutnya adalah, gw harus bisa bikin pempek dengan baik dan benar. Well, gw udah pernah mencoba bikin pempek sekali dulu ketika masih hamil Dafi, cuma hasilnya tidak begitu memuaskan. Rasanya kurang afdhol aja, walopun gw dan suami sama-sama orang Padang, tapi kita tinggal dan menjadi bagian orang Palembang kok ya, gak bisa bikin pempek? hehehe :D
Namun, yang lebih penting adalah soal ibadah gw, jujur entah kenapa makin kesini ibadah gw makin 'alakadarnya' aja. Dibandingkan ketika masih gadis, gw rasa ibadah gw lebih lumayan dibanding udah jadi emak-emak gini. Dulu walopun gak rutin, gw selalu mengusahakan bisa sholat tahajud, sekarang gak pernah sama sekali, dulu dalam sebulan gw beberapa hari puasa sunat, sekarang hutang puasa bulan Ramadhan aja belum lunas samasekali, dulu juga hampir dibilang gak pernah tinggal sholat dhuha di kantor, sekarang jaraaaanngg banget. Dulu selalu mengaji abis sholat magrib dan subuh, sekarang juga jaraaaanng banget. Menyedihkan yaa :'(
Berbanding terbalik dengan suami, dulu ketika masih bujangan katanya ibadah juga alakadarnya aja, hanya menunaikan sholat2 wajib, trus puasa bulan ramadahan. Itu aja. Namun sejak menikah, gw liat dia makin berubah, setiap selesai sholat magrib selalu mengaji dan dalam setahun bisa khatam 2 kali. Sholat dhuha juga gak pernah absen, sebelum berangkat kerja, dia pasti sholat dhuha dulu. Gw sering diingetin untuk ngaji lagi bareng-bareng cuma dasarnya gw bandel entah kenapa enggan banget baca Al-Qur'an lagi. Help me God!
Gw selalu mudah menyalahkan kondisi untuk kelalaian gw, repot dan capek ngurus anak dan rumah sehingga gak sempat lagi untuk ngaji, atau bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Padahal kan, emang dasarnya gw yang gak pinter manajemen waktu.
Sebenarnya sih emang ya, jadi ibu rumah tangga itu capeknya minta ampun. Beda aja dibandingkan ibu bekerja. Karena 24 jam waktu kita tercurah untuk anak dan rumah. Mungkin kelihatan sepele, tapi coba dirasaian sendiri kalo gak percaya. Kasarnya sih capek lahir batin hahaha. Cuma kan, kalo dipikir-pikir gw harusnya bersyukur, suami gw mau turun tangan membantu gw. Berhubung bukan orang kantoran yang harus masuk kerja pagi jam 8 tapi suka-sukanya dia, gw lumayan tertolong, dia bisa bantuin jaga anak dan beberes rumah ketika misalnya gw pagi-pagi belanja kepasar dan kemudian masak. Atau bantuin nyuci pakaian, walo pake mesin cuci sih tetep aja kadang repot. Trus malamnya ketika Dafi rewel dan gw udah sangat capek, dia mau jagain dan nemenin sedangkan gw tidur cantik. Trus soal semua kebutuhan, Alhamdulillah tercukupi. Pengen sesuatu tinggal tunjuk *tapi gak semua hal juga sih, buktinya pas gw nunjuk minta dibeliin All New CRV gak dikasih tuh! Ok, gw nunjuknya berlebihan banget sih, Etapi pas nunjuk bathtub, shower dan peralatan kamar mandi lux lainnya, pas kita lagi liat-liat di ACE Hardware juga gak dikasih (emang mau ditaruh dimana bego, rumah kalian aja masih belum diapa-apain) :p*. Oke kembali ke topik, kalo gw lagi males masak, ya dia ngerti juga, trus kita makan diluar. Yah gak neko-neko lah suami gw ini. Alhamdulillah yah :)
Jadi Lia apalagi alasan untuk mengeluhkan kekurangan waktu untuk ibadah haa???
Apalagi alasan untuk mengeluhkan nasib haaaa???
Atau masih tetep mimpi bisa jadi bagian keluarga Abu Bakrie? :p
*tepok jidat*
Minggu, 25 Desember 2011
Teman-teman dimasa lalu
Kadang kalo dipikir-pikir hidup ini lucu dan ga ketebak ya? Saat ini kita hidup berdampingan dan bergaul dengan orang-orang di lingkungan sekitar kita, saling mebgukir kisah, mengalami hal-hal manis, pahit bersama-sama, dan saling meninggalkan kesan di hati satu sama lain. Namun kita ga pernah tahu, setahun kemudaian, lima tahun, sepuluh tahun lagi kita ga tau apakah masih bersama-sama mereka lagi atau tidak. Semua datang dan pergi.
Beberapa waktu lalu gw sama keluarga kecil gw makan malam di salah satu tempat makan gak begitu jauh dari rumah, selesai makan tiba-tiba gw melihat seorang teman lama juga lagi makan, sebenarnya dulu kami tidak begitu dekat cuma pernah dipertemukan oleh suatu kondisi dimana kami bersama-sama selama kurang lebih 2 bulan saja. Awalnya gw agak segan menyapa duluan takutnya dia udah lupa ama gw, tapi pas lewat ke mejanya dia juga melihat gw dan langsung menyapa. Menyenangkan juga bertemu teman lama di tempat yang malah tidak terpikirkan bakal ketemu temen lama. :)
Atau ketika melhat layar televisi, di salah satu stasiun tv swasta ada seorang teman lama gw yang menjadi reporter disana. Rasanya lucu, bangga dan berbagai perasaan berkecamuk melihat dia sekarang, ingatan gw seolah melayang ke beberapa tahun silam disaat lagi-lagi kondisi memepertemukan kami di sebuah tempat kerja yang sama. Bertahun mengenal dia di tempat kerja dulu sedikit banyaknya gw tahu dia lah. Lucu aja mengingat dia yang sekarang berwibawa mebacakan berita, padahal dulunya pernah begitu galau, lucu dan apa adanya bahkan beberapa rahasia pribadi dia masih tersangkut di memori gw. Dia yang dulu pernah minta duit buat ongkos naik angkot karena lagi kere-kerenya sekarang malah hampir tiap hari menjelalajahi kota-kota di Indonesia untuk meliput berita. Bro, gw sungguh bangga melihat lo sekarang :)
Dan hari ini gw baru aja melihat profil salah satu teman lama juga di FB. Lagi-lagi seorang teman lama yang membuat gw pangling. Melihat-lihat fotonya dan keluarga liburan di Eropa, umrah ke Tanah suci dan melihat dua orang anaknya yang cakep2. Yah, dari dulu ketika lagi-lagi kondisi mempertemukan kami pada pekerjaan yang sama, dia belum punya anak, dan dia pernah ngajak gw nginap dirumahnya berhubung suaminya sedang keluar kota dan dia takut tidur sendirian. Waktu dulu dia senang ngajak gw, ngasih tumpangan dengan mobilnya yang nyaman, ke tempat peminjaman novel, atau sekedar cerita2. Yah gw yang masih lugu dalam segala hal *halah* bener2 terkagum kagum melihat dia. Muda, cantik, punya suami tajir *uhuk* dan sangat memanjakan dia. Itu impiam semua gadis lugu pada waktu itu :D
Dan juga temen-temen lama gw yang lain. Ketika dulu kami dipertemukan oleh suatu kondisi, kami saling mengukir warna, dan setelah beberapa waktu kemudian waktu memisahkan dan entah kenapa rasanya menjadi asing satu sama lain. Mungkin masih tetap saling bertegur sapa di dunia maya karena ga pernah lagi ketemu di dunia nyata, namun semuanya sudah gak sama lagi. Cerita rasanya jadi ga begitu menarik lagi.
Banyak teman-teman yang datang dan pergi,semua meninggalkan kesan dihati. Namun hanya sahabat sejati yang mudah-mudahan abadi.
Beberapa waktu lalu gw sama keluarga kecil gw makan malam di salah satu tempat makan gak begitu jauh dari rumah, selesai makan tiba-tiba gw melihat seorang teman lama juga lagi makan, sebenarnya dulu kami tidak begitu dekat cuma pernah dipertemukan oleh suatu kondisi dimana kami bersama-sama selama kurang lebih 2 bulan saja. Awalnya gw agak segan menyapa duluan takutnya dia udah lupa ama gw, tapi pas lewat ke mejanya dia juga melihat gw dan langsung menyapa. Menyenangkan juga bertemu teman lama di tempat yang malah tidak terpikirkan bakal ketemu temen lama. :)
Atau ketika melhat layar televisi, di salah satu stasiun tv swasta ada seorang teman lama gw yang menjadi reporter disana. Rasanya lucu, bangga dan berbagai perasaan berkecamuk melihat dia sekarang, ingatan gw seolah melayang ke beberapa tahun silam disaat lagi-lagi kondisi memepertemukan kami di sebuah tempat kerja yang sama. Bertahun mengenal dia di tempat kerja dulu sedikit banyaknya gw tahu dia lah. Lucu aja mengingat dia yang sekarang berwibawa mebacakan berita, padahal dulunya pernah begitu galau, lucu dan apa adanya bahkan beberapa rahasia pribadi dia masih tersangkut di memori gw. Dia yang dulu pernah minta duit buat ongkos naik angkot karena lagi kere-kerenya sekarang malah hampir tiap hari menjelalajahi kota-kota di Indonesia untuk meliput berita. Bro, gw sungguh bangga melihat lo sekarang :)
Dan hari ini gw baru aja melihat profil salah satu teman lama juga di FB. Lagi-lagi seorang teman lama yang membuat gw pangling. Melihat-lihat fotonya dan keluarga liburan di Eropa, umrah ke Tanah suci dan melihat dua orang anaknya yang cakep2. Yah, dari dulu ketika lagi-lagi kondisi mempertemukan kami pada pekerjaan yang sama, dia belum punya anak, dan dia pernah ngajak gw nginap dirumahnya berhubung suaminya sedang keluar kota dan dia takut tidur sendirian. Waktu dulu dia senang ngajak gw, ngasih tumpangan dengan mobilnya yang nyaman, ke tempat peminjaman novel, atau sekedar cerita2. Yah gw yang masih lugu dalam segala hal *halah* bener2 terkagum kagum melihat dia. Muda, cantik, punya suami tajir *uhuk* dan sangat memanjakan dia. Itu impiam semua gadis lugu pada waktu itu :D
Dan juga temen-temen lama gw yang lain. Ketika dulu kami dipertemukan oleh suatu kondisi, kami saling mengukir warna, dan setelah beberapa waktu kemudian waktu memisahkan dan entah kenapa rasanya menjadi asing satu sama lain. Mungkin masih tetap saling bertegur sapa di dunia maya karena ga pernah lagi ketemu di dunia nyata, namun semuanya sudah gak sama lagi. Cerita rasanya jadi ga begitu menarik lagi.
Banyak teman-teman yang datang dan pergi,semua meninggalkan kesan dihati. Namun hanya sahabat sejati yang mudah-mudahan abadi.
Rabu, 09 November 2011
Pertengkaran mereka membuat gw bersyukur..
Sudah lama tidak apdet blog ini. Padahal banyak banget yang mau di share. :)
O, ya kepikirin buat ngapdet sekarang karena barusan gw blogwalking ke blog2 emak-emak cihuy yang sering gw kunjungi di dunia maya. Dan semacam perasaan 'iri' menyelinap di hati gw. Well, jujur kadang kita merasa kehidupan orang lain lebih menarik dan menyenangkan dari kehidupan kita sendiri, iya kan, kan, kan, kan? #nyari pembenaran :)
Tentang karir cemerlang mereka, tentang liburan-liburan menyenangkan, tentang ini, itu, bla, bla, bla..
Lantas gw membandingkan dengan diri gw sendiri, karir? berakhir menjadi ibu rumah tangga biasa, liburan? ah, liburan apaan? bukannya tiap hari gw liburan? liburan dirumah maksudnya hahaha..
Tapi tiba-tiba gw kaget dengan bunyi teriakan-teriakan kasar, bunyi barang-barang dibanting dan suara tangisan bayi yang memekakkan telinga. Yah, tetangga gw! yang rumahnya persis berhadapan dengan rumah gw, dimana rumah kami hanya dipisahkan oleh jalan selebar 2 meter. Dalam sebulan paling sedikit 4 kali ada aja berantemnya.
Hhhh, lantas kemudian rasa iri gw berubah menjadi rasa syukur. Bukan bersyukur atas nasib tetangga gw, tapi bersyukur gw tidak mengalami apa yang mereka alami.
Ok, inilah hal-hal yang harus gw syukuri:
1. Selama hampir 3 taun pernikahan kami Alhamdulillah tidak pernah suami mengasari gw apalagi memukul seperti halnya tetangga gw itu, bahkan marahpun tidak pernah!
2. Suami bertanggung jawab dan perhatian
3. Suami sabar dan penyayang
4. Suami pintar ngurusin anak
dll..dll dlll
Mungkin memang belum bisa liburan ke luar negeri atau ke tempat-tempat indah di negeri ini. Bukannya gak pengen tapi budget untuk itu belum ada, mending duitnya buat cicilan rumah, tabungan sekolahnya Dafi dan investasi kan?
Suara teriakan-teriakan di rumah depan masih terdengar, trus grabak-grubuk. Gw ga tau apakah si suami gebukin istrinya atau mencekik atau apalah. Gw hanya berdoa dalam hati semoga si suami disadarkan oleh Allah dan si istrinya dilindungi, dan juga semoga keluarga kecil kami dijauhkan dari hal-hal semacam itu. Amien.
Flasback dikit, dulu sekali waktu masih ngeblog di friendster gw pernah ngebahas tentang bersyukur ini. Kenapa pada umumnya kita manusia baru bisa bersyukur ketika melihat ada orang yang lebih susah dari kita? Kenapa kita tidak bisa bersyukur tanpa harus membandingkan dahulu? Bersyukur karena memang seharusnya kita bersyukur.
Sampai sekarang gw belum menemukan jawabannya :)
O, ya kepikirin buat ngapdet sekarang karena barusan gw blogwalking ke blog2 emak-emak cihuy yang sering gw kunjungi di dunia maya. Dan semacam perasaan 'iri' menyelinap di hati gw. Well, jujur kadang kita merasa kehidupan orang lain lebih menarik dan menyenangkan dari kehidupan kita sendiri, iya kan, kan, kan, kan? #nyari pembenaran :)
Tentang karir cemerlang mereka, tentang liburan-liburan menyenangkan, tentang ini, itu, bla, bla, bla..
Lantas gw membandingkan dengan diri gw sendiri, karir? berakhir menjadi ibu rumah tangga biasa, liburan? ah, liburan apaan? bukannya tiap hari gw liburan? liburan dirumah maksudnya hahaha..
Tapi tiba-tiba gw kaget dengan bunyi teriakan-teriakan kasar, bunyi barang-barang dibanting dan suara tangisan bayi yang memekakkan telinga. Yah, tetangga gw! yang rumahnya persis berhadapan dengan rumah gw, dimana rumah kami hanya dipisahkan oleh jalan selebar 2 meter. Dalam sebulan paling sedikit 4 kali ada aja berantemnya.
Hhhh, lantas kemudian rasa iri gw berubah menjadi rasa syukur. Bukan bersyukur atas nasib tetangga gw, tapi bersyukur gw tidak mengalami apa yang mereka alami.
Ok, inilah hal-hal yang harus gw syukuri:
1. Selama hampir 3 taun pernikahan kami Alhamdulillah tidak pernah suami mengasari gw apalagi memukul seperti halnya tetangga gw itu, bahkan marahpun tidak pernah!
2. Suami bertanggung jawab dan perhatian
3. Suami sabar dan penyayang
4. Suami pintar ngurusin anak
dll..dll dlll
Mungkin memang belum bisa liburan ke luar negeri atau ke tempat-tempat indah di negeri ini. Bukannya gak pengen tapi budget untuk itu belum ada, mending duitnya buat cicilan rumah, tabungan sekolahnya Dafi dan investasi kan?
Suara teriakan-teriakan di rumah depan masih terdengar, trus grabak-grubuk. Gw ga tau apakah si suami gebukin istrinya atau mencekik atau apalah. Gw hanya berdoa dalam hati semoga si suami disadarkan oleh Allah dan si istrinya dilindungi, dan juga semoga keluarga kecil kami dijauhkan dari hal-hal semacam itu. Amien.
Flasback dikit, dulu sekali waktu masih ngeblog di friendster gw pernah ngebahas tentang bersyukur ini. Kenapa pada umumnya kita manusia baru bisa bersyukur ketika melihat ada orang yang lebih susah dari kita? Kenapa kita tidak bisa bersyukur tanpa harus membandingkan dahulu? Bersyukur karena memang seharusnya kita bersyukur.
Sampai sekarang gw belum menemukan jawabannya :)
Rabu, 15 Juni 2011
Lagu yang Menghantui
Malam galau begini gw lagi denger lagunya 'Haunting Me-Dave Gruisin'.
Sebelumnya mau nanya nih, pernah nggak ngalamin ketika mendengar lagu tertentu rasanya gimanaaa banget, atau tiba-tiba terhanyut dan teringat kelebatan-kelebatan kejadian masa lalu yang diwakilkan oleh lagu tersebut?
Lagu ini mengingatkan gw pada malam-malam penuh keletihan di stasiun radio tercinta gw di Padang. Gw ingat sepulang kerja dari kantor gw sering mampir ke radio dan biasanya nongkrong sama anak-anak sampai malam dan pulang ke kost-an jam sepuluh malam dengan tubuh remuk, kepala berat dan mata mengantuk. Selesai mandi gw langsung tewas dengan sukses diatas kasur.
Lagu ini juga mengingatkan gw tentang kesepian gw, tentang pencarian panjang gw akan pasangan jiwa :D, setelah sempat mengalami patah hati berdarah darah *lebay* gw menobatkan diri gw sebagai HIGH QUALITY JOMBLO selama kurang lebih 7 tahun! Kadang gw heran dan agak menyesal kenapa gw melewatkan begitu saja masa-masa muda gw yaa? padahal ada beberapa cowok menarik dan lucu yang bisa saja klo gw mau jadi teman dekat gw waktu itu hehehe..
Lagu ini juga mengingatkan gw pada pengorbanan dan ketulusan gw pada 'mantan sahabat' gw. Kadang ketika masih muda kita bisa begitu naifnya menilai seseorang. Menganggap sebagai sahabat sejati namun pada akhirnya malah menjadikannya sebagai orang terakhir yang ingin kau lihat di muka bumi ini.
Lagu ini juga mengingatkan gw akan impian-impian gila gw soal pasangan jiwa. Pengen ketemu dengan orang yang mencintai gw apa adanya, yang dengannya gw merasa sebagai perempuan paling sempurna, yang dengannya semua kegalauan gw bisa sirna. Gw selalu mengimpikan pria itu memberikan kejutan makan malam romantis dan setelahnya dia berlutut dihadapan gw dan bilang 'will u marry me sambil menyodorkan cincin permata yang indah' dan tiba-tiba langit penuh dengan kembang api kwkwkwkw..Hollywood sekaleee..katakan gw norak dan cemen, tapi percayalah perempuan manapun pasti suka diperlakukan seperti itu, klo ada yang bilang nggak pasti dia bohong. *ngotot* :p
Lagu ini juga mengingatkan gw akan kegalauan gw dengan nasib gw yang ditaksir cowok yang gak gw taksir dan naksir cowok yang nggak naksir gw dan naksir cowok yang naksir gw namun juga naksir cewek lain. Ribet gak sih?
Lagu ini juga mengingatkan gw akan saldo tabungan gw yang gak nambah-nambah padahal impian gw membutuhkan saldo tabungan yang bunyaaak sekali.
Lagu ini, ya lagu ini adalah salah satu favorit gw.
Sebelumnya mau nanya nih, pernah nggak ngalamin ketika mendengar lagu tertentu rasanya gimanaaa banget, atau tiba-tiba terhanyut dan teringat kelebatan-kelebatan kejadian masa lalu yang diwakilkan oleh lagu tersebut?
Lagu ini mengingatkan gw pada malam-malam penuh keletihan di stasiun radio tercinta gw di Padang. Gw ingat sepulang kerja dari kantor gw sering mampir ke radio dan biasanya nongkrong sama anak-anak sampai malam dan pulang ke kost-an jam sepuluh malam dengan tubuh remuk, kepala berat dan mata mengantuk. Selesai mandi gw langsung tewas dengan sukses diatas kasur.
Lagu ini juga mengingatkan gw tentang kesepian gw, tentang pencarian panjang gw akan pasangan jiwa :D, setelah sempat mengalami patah hati berdarah darah *lebay* gw menobatkan diri gw sebagai HIGH QUALITY JOMBLO selama kurang lebih 7 tahun! Kadang gw heran dan agak menyesal kenapa gw melewatkan begitu saja masa-masa muda gw yaa? padahal ada beberapa cowok menarik dan lucu yang bisa saja klo gw mau jadi teman dekat gw waktu itu hehehe..
Lagu ini juga mengingatkan gw pada pengorbanan dan ketulusan gw pada 'mantan sahabat' gw. Kadang ketika masih muda kita bisa begitu naifnya menilai seseorang. Menganggap sebagai sahabat sejati namun pada akhirnya malah menjadikannya sebagai orang terakhir yang ingin kau lihat di muka bumi ini.
Lagu ini juga mengingatkan gw akan impian-impian gila gw soal pasangan jiwa. Pengen ketemu dengan orang yang mencintai gw apa adanya, yang dengannya gw merasa sebagai perempuan paling sempurna, yang dengannya semua kegalauan gw bisa sirna. Gw selalu mengimpikan pria itu memberikan kejutan makan malam romantis dan setelahnya dia berlutut dihadapan gw dan bilang 'will u marry me sambil menyodorkan cincin permata yang indah' dan tiba-tiba langit penuh dengan kembang api kwkwkwkw..Hollywood sekaleee..katakan gw norak dan cemen, tapi percayalah perempuan manapun pasti suka diperlakukan seperti itu, klo ada yang bilang nggak pasti dia bohong. *ngotot* :p
Lagu ini juga mengingatkan gw akan kegalauan gw dengan nasib gw yang ditaksir cowok yang gak gw taksir dan naksir cowok yang nggak naksir gw dan naksir cowok yang naksir gw namun juga naksir cewek lain. Ribet gak sih?
Lagu ini juga mengingatkan gw akan saldo tabungan gw yang gak nambah-nambah padahal impian gw membutuhkan saldo tabungan yang bunyaaak sekali.
Lagu ini, ya lagu ini adalah salah satu favorit gw.
Kamis, 10 Desember 2009
dream job!
Ngomong-ngomong soal pekerjaan, sebenarnya pekerjaan seperti apa yang bisa dinikmati dan diimpikan semua orang? Barangkali adalah pekerjaan yang bisa memberikan rasa kepuasan dan kenyamanan baik secara materi ataupun non materi. Pekerjaan yang bisa memerdekakan pikiran dan masalah finansial kita.
Sewaktu kuliah dulu saya bingung mau kemana setelah tamat nanti. Dengan ijazah dari jurusan Teknik Elektro yang terbayang dibenak saya hanyalah perusahaan semacam PLN, atau perusahaan elektronik dan industri lainnya. Dan itu sungguh membuat saya khawatir. Jujur saja, walaupun saya salah satu mahasiswa yang lulus cepat di angkatan saya dan dengan nilai yang cukup tinggi pula dibandingkan dengan teman2 seangkatan saya yang lain, namun saya tidak cukup percaya diri bersaing dengan ribuan lulusan lain untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan2 favorit. Ditambah lagi, saya merasa bahwa ‘kesalahan terbesar’ dalam hidup saya adalah ketika saya kuliah di Teknik Elektro.
OK, ketika SMA saya memang masuk jurusan IPA. Dan itu semata-mata karena ketika kelas dua SMA saya terpilih masuk ke lokal 2-1 yang merupakan lokal unggulan dimana ketika mereka naik ke kelas 3 otomatis masuk jurusan IPA yang merupakan jurusan anak-anak cerdas. Anak-anak unggulan. Ah, padahal ketika itu saya sangat ingin masuk jurusan Bahasa yang notabene adalah lokal siswa-siswa ‘buangan’. Lokal dimana berkumpul anak-anak nakal dan lemah otaknya. Saya heran bagaimana bisa stigma negative itu bisa demikian lekatnya di benak para siswa dan guru2 selama puluhan tahun?!
Alhasil, dengan hati yang berat saya jalani juga sebagai siswa IPA1 yang dianggap oleh seluruh sekolah adalah lokal unggulan, tempat berkumpulnya siswa2 cerdas. Gak peduli betapa nilai Fisika saya gak pernah lebih dari 6, Matematika saya yang cuma sekali dapat angka 8, dan Kimia dan Biologi saya yg juga pas-pasan. Saya lemah dalam ilmu eksak. Saya sadar betul hal itu.
Ketika kuliah pun entah bagaimana ceritanya saya terdampar di Teknik Elektro sebagai mahasiswa undangan. OK, saya memang mengisi formulir mahasiswa undangan di kampus saya tapi saya jelas-jelas memilih Bahasa Inggris dan Manajemen. Namun ketika pengumuman kelulusan, saya justru mendapat ‘kursi’ di Teknik Elektro. Ah, ajaib bukan main.
Lagi-lagi saya terlalu pengecut untuk ikut UMPTN dan bersaing dengan ratusan ribu siswa di seluruh Indonesia untuk memilih jurusan yang saya inginkan. Saya kembali dengan berat hati mengikuti alur hidup dan kuliah di jurusan Teknik Elektro itu. Walau saya benci eksak, saya benci Fisika dan matematika. Baik, saya jelaskan, dari seluruh ilmu di Fisika saya paling benci dengan ilmu listrik namun ketika kuliah saya mempelajari listrik selama 3,5 tahun kuliah saya. Ah, benar2 menyebalkan!
Ketika tamat saya memutuskan tidak lagi berurusan dengan listrik itu. Saya banting stir. Cukup sudah si listrik mematikan impian2 saya. Saya melirik dunia penyiaran dan jurnalistik. Sebagai si pemalu dan cewek yang romantis (hahahaha) saya sangat mencintai musik, saya juga mencintai tulisan-tulisan dan buku-buku. Saya sangat ingin menjadi penulis atau penyiar radio.
Setamat kuliah saya diterima sebagai penyiar radio, hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidup saya. Bahkan sampai sekarang saya masih ingat betapa dada saya membuncah saking senangnya, saya menangis, saya tertawa dan saya tak berhenti bersyukur. Padahal kalau dipikir-pikir “Helllooo.. ini kan ‘Cuma’ penyiar radio”. Pekerjaan yg barangkali tidak pernah dilirik oleh orang, pekerjaan yang ga bergengsi sama sekali, namun bagi saya inilah hidup saya. Impian saya. Norak sekali
Namun hidup gak melulu soal keinginan yang terwujud saja. Kebahagiaan memang gak bisa dibeli dengan uang, namun saya akui uang juga bisa membawa kebahagiaan. Kita jauh lebih bahagia ketika ada uang. Kita bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan dengan uang. Dan uang gak ada di dunia radio saya. Saya miskin uang bekerja di radio. ;)
Akhirnya saya beranikan diri melamar ke sebuah perusahaan yg cukup besar di kota saya. Alhamdulillah diterima walaupun kontrak. Namun waktu itu yang ada di otak saya hanya uang. Saya harus mendapatkan uang. Karena setelah tamat saya berjanji gak akan tergantung lagi dengan orang tua saya. Dan untuk mandiri tentu saja butuh uang kan?
Tiga setengah tahun saya bekerja di perusahaan itu, saya memang mendapatkan uang namun tidak bisa memuaskan saya. Uang yang saya dapat tidak sesuai dengan seluruh waktu dan tenaga yang saya berikan. Saya tidak enjoy, kreativitas saya mati, yang saya dapat hanya capek dan gaji yang pas-pasan di akhir bulan. Ah, bukan pekerjaan seperti ini yang saya impikan. Menjadi penyiar masih jalan namun tidak bisa lagi saya nikmati karena energi saya sudah terkuras habis karena pekerjaan utama saya. Jadi empat tahun setelah tamat saya memang tidak merasakan yang namanya menganggur namun saya juga merasa saya tidak menadapatkan apa-apa. Alangkah sia-sianya.
Jika hidup bisa diputar lagi banyak hal yang ingin saya perbaiki. Namun tentu saja itu harapan yang bodoh bukan?
Sekarang saya sudah menikah. Sempat terbersit dipikiran saya sebelum menikah dulu kalau saya ingin menjadi ibu rumah tangga saja. Saya resign dari tempat kerja saya walaupun saya tahu kontrak saya akan diperpanjang. Saya meninggalkan radio tempat saya dulu pertama kali merasakan bahagia dalam hidup hidup saya.
Namun, manusia memang tidak pernah puas. Belum genap dua bulan menikah saya sudah hunting pekerjaan lagi. Saya tidak betah jadi ibu rumah tangga. Sudah puluhan surat lamaran saya kirim, beberapa dipanggil namun tetap saja pekerjaan itu bukanlah ‘keinginan’ saya. Saya ditawari bekerja di salah satu perusahaan Indeks Saham. What? Saya mundur, saya gak tertarik. Saya melamar di perbankan, ditawari pekerjaan menjual produk mereka. What? Saya lagi-lagi tidak berminat. Ujung-unjungnya saya kembali menjadi penyiar radio.
Kadang saya heran, saya sudah tahu bahwa yang saya inginkan hanyalah jadi penyiar radio namun saya masih saja melamar pekerjaan pada perusahaan-perusahaan yang kebetulan sedang membuka lowongan.
Apa karena gengsi?
*ingin jadi pekerja kantoran dengan pakaian rapi dan bagus serta dapat gaji bulanan, dan tentu saja bisa ‘pamer’ kalau suatu saat teman2 lama menanyakan : “kamu kerja dimana?” dan saya bisa menjawab dengan nada bangga bahwa saya bekerja di perusahaan ini. Bla.bla.bla*
Apa karena tuntutan ekonomi?
*Suami saya memang bukan konglomerat, namun alhamdulillah kami tidak kekurangan. Tanpa saya bekerja-pun suami masih bisa amenghidupi RT kami, ya walau sepertinya saya ingin juga punya penghasilan sendiri ;)*
Apa karena ingin merasa berarti?
Ah, entahlah. Sampai sekarang saya masih bingung
Hal-hal yang menjadi impian saya sebenarnya hanyalah:
• Saya tetap jadi penyiar radio, yang punya keleluasaan waktu, saya bisa memutarkan lagu2 favorit saya, saya bisa menyapa dan menyampaikan informasi-informasi menarik bagi pendengar saya.
• Saya merambah ke dunia televisi dengan catatan waktunya tidak mengekang
• Saya mempunyai usaha sendiri (bisnis makanan, taman bacaan atau rental film)
• Saya rutin menulis lagi
• Saya punya penghasilan sendiri yang bisa membantu suami saya untuk mewujudkan impian2 kami
Sederhana bukan? Namun karena saya banyak maunya, impian itu sebenarnya tidaklah sederhana.
Oh, What a life!
Sewaktu kuliah dulu saya bingung mau kemana setelah tamat nanti. Dengan ijazah dari jurusan Teknik Elektro yang terbayang dibenak saya hanyalah perusahaan semacam PLN, atau perusahaan elektronik dan industri lainnya. Dan itu sungguh membuat saya khawatir. Jujur saja, walaupun saya salah satu mahasiswa yang lulus cepat di angkatan saya dan dengan nilai yang cukup tinggi pula dibandingkan dengan teman2 seangkatan saya yang lain, namun saya tidak cukup percaya diri bersaing dengan ribuan lulusan lain untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan2 favorit. Ditambah lagi, saya merasa bahwa ‘kesalahan terbesar’ dalam hidup saya adalah ketika saya kuliah di Teknik Elektro.
OK, ketika SMA saya memang masuk jurusan IPA. Dan itu semata-mata karena ketika kelas dua SMA saya terpilih masuk ke lokal 2-1 yang merupakan lokal unggulan dimana ketika mereka naik ke kelas 3 otomatis masuk jurusan IPA yang merupakan jurusan anak-anak cerdas. Anak-anak unggulan. Ah, padahal ketika itu saya sangat ingin masuk jurusan Bahasa yang notabene adalah lokal siswa-siswa ‘buangan’. Lokal dimana berkumpul anak-anak nakal dan lemah otaknya. Saya heran bagaimana bisa stigma negative itu bisa demikian lekatnya di benak para siswa dan guru2 selama puluhan tahun?!
Alhasil, dengan hati yang berat saya jalani juga sebagai siswa IPA1 yang dianggap oleh seluruh sekolah adalah lokal unggulan, tempat berkumpulnya siswa2 cerdas. Gak peduli betapa nilai Fisika saya gak pernah lebih dari 6, Matematika saya yang cuma sekali dapat angka 8, dan Kimia dan Biologi saya yg juga pas-pasan. Saya lemah dalam ilmu eksak. Saya sadar betul hal itu.
Ketika kuliah pun entah bagaimana ceritanya saya terdampar di Teknik Elektro sebagai mahasiswa undangan. OK, saya memang mengisi formulir mahasiswa undangan di kampus saya tapi saya jelas-jelas memilih Bahasa Inggris dan Manajemen. Namun ketika pengumuman kelulusan, saya justru mendapat ‘kursi’ di Teknik Elektro. Ah, ajaib bukan main.
Lagi-lagi saya terlalu pengecut untuk ikut UMPTN dan bersaing dengan ratusan ribu siswa di seluruh Indonesia untuk memilih jurusan yang saya inginkan. Saya kembali dengan berat hati mengikuti alur hidup dan kuliah di jurusan Teknik Elektro itu. Walau saya benci eksak, saya benci Fisika dan matematika. Baik, saya jelaskan, dari seluruh ilmu di Fisika saya paling benci dengan ilmu listrik namun ketika kuliah saya mempelajari listrik selama 3,5 tahun kuliah saya. Ah, benar2 menyebalkan!
Ketika tamat saya memutuskan tidak lagi berurusan dengan listrik itu. Saya banting stir. Cukup sudah si listrik mematikan impian2 saya. Saya melirik dunia penyiaran dan jurnalistik. Sebagai si pemalu dan cewek yang romantis (hahahaha) saya sangat mencintai musik, saya juga mencintai tulisan-tulisan dan buku-buku. Saya sangat ingin menjadi penulis atau penyiar radio.
Setamat kuliah saya diterima sebagai penyiar radio, hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidup saya. Bahkan sampai sekarang saya masih ingat betapa dada saya membuncah saking senangnya, saya menangis, saya tertawa dan saya tak berhenti bersyukur. Padahal kalau dipikir-pikir “Helllooo.. ini kan ‘Cuma’ penyiar radio”. Pekerjaan yg barangkali tidak pernah dilirik oleh orang, pekerjaan yang ga bergengsi sama sekali, namun bagi saya inilah hidup saya. Impian saya. Norak sekali
Namun hidup gak melulu soal keinginan yang terwujud saja. Kebahagiaan memang gak bisa dibeli dengan uang, namun saya akui uang juga bisa membawa kebahagiaan. Kita jauh lebih bahagia ketika ada uang. Kita bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan dengan uang. Dan uang gak ada di dunia radio saya. Saya miskin uang bekerja di radio. ;)
Akhirnya saya beranikan diri melamar ke sebuah perusahaan yg cukup besar di kota saya. Alhamdulillah diterima walaupun kontrak. Namun waktu itu yang ada di otak saya hanya uang. Saya harus mendapatkan uang. Karena setelah tamat saya berjanji gak akan tergantung lagi dengan orang tua saya. Dan untuk mandiri tentu saja butuh uang kan?
Tiga setengah tahun saya bekerja di perusahaan itu, saya memang mendapatkan uang namun tidak bisa memuaskan saya. Uang yang saya dapat tidak sesuai dengan seluruh waktu dan tenaga yang saya berikan. Saya tidak enjoy, kreativitas saya mati, yang saya dapat hanya capek dan gaji yang pas-pasan di akhir bulan. Ah, bukan pekerjaan seperti ini yang saya impikan. Menjadi penyiar masih jalan namun tidak bisa lagi saya nikmati karena energi saya sudah terkuras habis karena pekerjaan utama saya. Jadi empat tahun setelah tamat saya memang tidak merasakan yang namanya menganggur namun saya juga merasa saya tidak menadapatkan apa-apa. Alangkah sia-sianya.
Jika hidup bisa diputar lagi banyak hal yang ingin saya perbaiki. Namun tentu saja itu harapan yang bodoh bukan?
Sekarang saya sudah menikah. Sempat terbersit dipikiran saya sebelum menikah dulu kalau saya ingin menjadi ibu rumah tangga saja. Saya resign dari tempat kerja saya walaupun saya tahu kontrak saya akan diperpanjang. Saya meninggalkan radio tempat saya dulu pertama kali merasakan bahagia dalam hidup hidup saya.
Namun, manusia memang tidak pernah puas. Belum genap dua bulan menikah saya sudah hunting pekerjaan lagi. Saya tidak betah jadi ibu rumah tangga. Sudah puluhan surat lamaran saya kirim, beberapa dipanggil namun tetap saja pekerjaan itu bukanlah ‘keinginan’ saya. Saya ditawari bekerja di salah satu perusahaan Indeks Saham. What? Saya mundur, saya gak tertarik. Saya melamar di perbankan, ditawari pekerjaan menjual produk mereka. What? Saya lagi-lagi tidak berminat. Ujung-unjungnya saya kembali menjadi penyiar radio.
Kadang saya heran, saya sudah tahu bahwa yang saya inginkan hanyalah jadi penyiar radio namun saya masih saja melamar pekerjaan pada perusahaan-perusahaan yang kebetulan sedang membuka lowongan.
Apa karena gengsi?
*ingin jadi pekerja kantoran dengan pakaian rapi dan bagus serta dapat gaji bulanan, dan tentu saja bisa ‘pamer’ kalau suatu saat teman2 lama menanyakan : “kamu kerja dimana?” dan saya bisa menjawab dengan nada bangga bahwa saya bekerja di perusahaan ini. Bla.bla.bla*
Apa karena tuntutan ekonomi?
*Suami saya memang bukan konglomerat, namun alhamdulillah kami tidak kekurangan. Tanpa saya bekerja-pun suami masih bisa amenghidupi RT kami, ya walau sepertinya saya ingin juga punya penghasilan sendiri ;)*
Apa karena ingin merasa berarti?
Ah, entahlah. Sampai sekarang saya masih bingung
Hal-hal yang menjadi impian saya sebenarnya hanyalah:
• Saya tetap jadi penyiar radio, yang punya keleluasaan waktu, saya bisa memutarkan lagu2 favorit saya, saya bisa menyapa dan menyampaikan informasi-informasi menarik bagi pendengar saya.
• Saya merambah ke dunia televisi dengan catatan waktunya tidak mengekang
• Saya mempunyai usaha sendiri (bisnis makanan, taman bacaan atau rental film)
• Saya rutin menulis lagi
• Saya punya penghasilan sendiri yang bisa membantu suami saya untuk mewujudkan impian2 kami
Sederhana bukan? Namun karena saya banyak maunya, impian itu sebenarnya tidaklah sederhana.
Oh, What a life!
Langganan:
Postingan (Atom)